5.7 C
Munich
Senin, Maret 8, 2021

Ada Peraturan Baru Untuk Pengguna Skuter Listrik, Hoveboard, Unicycle, dan Otopet

Must read

Propublik.id, Jakarta-Tren penggunaan kendaraan berpenggerak motor listrik mengalami peningkatan. Untuk itu, Kementerian Perhubungan menilai terdapat sejumlah sarana mobilitas berpenggerak listrik, di luar sarana transportasi konvensional, yang perlu diatur kelayakan dan pemanfaatannya.

“Selain sepeda motor listrik, mobil, dan bus, tenaga penggerak listrik juga digunakan pada kendaraan tertentu seperti skuter listrik, sepeda listrik, hoverboard, sepeda roda satu (unicycle), dan otopet. Untuk menertibkan penggunaan kendaraan tersebut, Kemenhub mengeluarkan peraturan baru,” terang Kepala Bagian Hukum dan Hubungan Masyarakat Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Endy Irawan, Kamis (27/8/2020).

Ada dua peraturan yang dikeluarkan Kemenhub. Untuk masyarakat pengguna ada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 45 Tahun 2020 tentang Kendaraan Tertentu dengan Menggunakan Penggerak Motor Listrik. PM tersebut mengatur persyaratan teknis kendaraan, jalur yang boleh dilewati, dan persyaratan pengguna.

Sedangkan untuk kualifikasi kendaraan yang dipasarkan produsen atau distributor diatur melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 44 Tahun 2020 tentang Pengujian Tipe Fisik Kendaraan Bermotor dengan Motor Penggerak Menggunakan Motor Listrik.

Endy menjelaskan bahwa aturan ini hanya mengatur kendaraan khusus/tertentu berpenggerak motor listrik selain sepeda motor, mobil, dan bus. Yang masuk kategori ini sebagaimana tercantum dalam PM 45/2020 adalah skuter listrik, sepeda listrik, hoveboard, unicycle, dan otopet.

Jabanor, Kasi Sertifikasi Tipe Kendaraan Bermotor Direktoral Sarana Transportasi Jalan Kemenhub menambahkan, area operasi kendaraan listrik kategori tersebut adalah lajur sepeda atau lajur yang disediakan khusus. Kendaraan ini dapat beroperasi di trotoar. Namun pengguna harus memperhatikan keselamatan pengguna jalan lain, khususnya pejalan kaki.

Kendaraan tertentu berpenggerak motor listrik juga dapat beroperasi di kawasan tertentu yaitu pemukiman, lokasi car free day, kawasan wisata, area sekitar sarana angkutan umum sebagai integrasi moda, area kawasan perkantoran, dan area di luar jalan.

“Selanjutnya, pemerintah daerah Kabupaten/Kota dapat menetapkan lajur khusus atau lajur sepeda untuk kendaraan tertentu ini,” kata Jabonor.

Selain itu, yang perlu diperhatikan, lanjut Jabonor, pengendara harus mengenakan helm, dan berusia minimal 12 tahun. Kendaraan tertentu seperti otopet, yang tidak dilengkapi tempat duduk, dilarang digunakan untuk berboncengan. Kemudian, memodifikasi daya motor untuk meningkatkan kecepatan, juga dilarang. Otopet, hoverboard, dan unicycle, dapat beroperasi dengan kecepatan maksimal 6 km/jam. Sedangkan skuter listrik dan sepeda listrik dapat beroperasi dengan kecepatan maksimal 25 km/jam.

Terkait uji tipe kendaraan bermotor listrik, sesuai PM 44 Tahun 2020, terdapat 5 poin penting yang diuji, yaitu: 1) unjuk kerja akumulator listrik, 2) alat pengisian ulang energi listrik, 3) pengujian kemampuan perlindungan terhadap sentuh/kontak listrik, 4) keselamatan fungsional, dan 5) emisi hidrogen.

Editor: Edward Panggabean

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article