Ini Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 dan Outlook 2021 dari Tim Ekonom CIMB Niaga

Pertumbuhan ekonomi (Produk Domestik Bruto) riil Indonesia di kuartal kedua 2020 diperkirakan sebesar minus 5,1% year-on-year (revisi atas pertumbuhan minus 1% yoy pada prediksi di bulan April 2020) atau minus 3,97% quarter-on-quarter.

Perkiraan pertumbuhan PDB riil di tahun 2020 juga direvisi menjadi 0,10%, turun jika dibandingkan dengan prediksi sebelumnya yaitu 1,80%.

Revisi prediksi angka pertumbuhan ekonomi ini mempertimbangkan kombinasi penurunan yang tajam dari data pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, pertumbuhan konsumsi semen nasional, pertumbuhan ekspor-impor barang, pertumbuhan indeks penjualan ritel dan pertumbuhan transaksi non-tunai. Indikator lain seperti tingkat keramaian di perkantoran, pusat perbelanjaan dan pusat transportasi umum yang menurun drastis ikut dipertimbangkan sebagai faktor melakukan revisi angka PDB.

Selain itu kami juga mempertimbangkan nilai restrukturisasi kredit perbankan dan multifinance yang mencapai hampir IDR 800 triliun (sekitar 12% dari total kredit pebankan dan 15% dari total kredit perusahaan multifinance) dalam memperhitungkan pertumbuhan PDB ini. Sebagai perbandingan, pertumbuhan PDB Indonesia di 1Q2020 adalah +2,97% yoy dan pertumbuhan 2Q2019 adalah +5,05% yoy.

Pada Mei 2020, penjualan semen nasional mencapai 3,21 juta ton, turun dari 4,51 juta ton (April 2020) dan 5,20 juta ton (Mei 2019). Penjualan semen sebenarnya cenderung tumbuh menurun sejak semester kedua tahun 2018. Pertumbuhan minus 38% year-on-year pada Mei 2020 menunjukkan adanya dampak negatif yang parah dari pembatasan sosial ekonomi dalam rangka membatasi penyebaran virus COVID-19.

Pada tahun 2019, bobot belanja investasi rumah tangga Indonesia untuk bangunan sekitar 24% dari produk domestik bruto riil. Penurunan pertumbuhan konsumsi semen nasional antara April-Juni 2020 diperkirakan sekitar 20% year-on-year.

Belanja rumah tangga diperkirakan sebesar minus 7% yoy dan belanja investasi minus 10% yoy di 2Q2020. Bobot kedua komponen utama ini terhadap PDB antara 85-90%. PDB riil pada kuartal kedua tampaknya akan mengandalkan kenaikan belanja pemerintah dan kenaikan ekspor neto sebagai kontributor positif.

Sayangnya belanja negara malah mengalami penurunan sekitar 1% yoy menjadi IDR 844 triliun antara Januari-Mei 2020 dan menunjukkan masih terbatasnya stimulus fiskal untuk mengatasi dampak buruk pandemi virus corona terhadap perekonomian Indonesia. Penurunan belanja negara terutama disebabkan oleh turunnya transfer dana ke daerah yang mencapai 6% menjadi IDR 307 triliun.

Proyeksi ekonomi yang muram ini tidak terjadi di Indonesia saja tetapi di seluruh dunia karena sebagian besar negara-negara di dunia menerapkan pembatasan aktivitas sosial-ekonomi dalam skala besar untuk mengatasi penyebaran virus COVID-19 yang mematikan.

Kantor anggaran Kongres Amerika Serikat misalnya pada laporan Mei 2020 memperkirakan ekonomi riil AS tumbuh minus 38% (data disetahunkan) pada kuartal kedua tahun 2020, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan minus 5% pada 1Q2020. Sedangkan Bank Dunia dalam laporan Juni 2020 memperkirakan ekonomi AS tumbuh minus 6% di sepanjang tahun 2020.

Era normal baru diharapkan akan kembali mendorong roda perekonomian dengan kuat tetapi sayangnya beberapa data dan perbandingan dengan negara lain menunjukkan bahwa pemulihan akan berlangsung bertahap dan pemulihan seutuhnya baru akan terjadi pada tahun 2021. Hal ini membawa pada prediksi pertumbuhan ekonomi minus 0,2% yoy pada kuartal ketiga, lebih rendah dibandingkan estimasi di laporan bulan April yaitu 1,50% yoy. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 diperkirakan sebesar 4,20%.

Aktivitas kota Jakarta berangsur-angsur pulih jika melihat data Google Mobility Report per tanggal 19 Juni 2020. Kondisi keramaian di tempat penjualan ritel dan pusat rekreasi, taman, tempat kerja, penjualan barang kebutuhan sehari-hari dan apotik serta pusat transit angkutan umum mulai meningkat jika dibandingkan kondisi paling sepi di akhir bulan Mei 2020.

Sebaliknya kondisi keramaian di perumahan atau tempat tinggal mulai menurun pada periode yang sama. Google membandingkan data keramaian terkini dengan data keramaian sebelum pembatasan sosial berskala besar yaitu di bulan Januari 2020 lalu.

Keramaian di tempat kerja misalnya sempat menurun hingga sekitar 55% di akhir bulan Mei jika dibandingkan keramaian di bulan Januari sedangkan per tanggal 19 Juni keramaian di tempat kerja masih turun sekitar 30% dibandingkan dengan data Januari tetapi sudah lebih baik dibandingkan akhir Mei.

Keramaian di pusat transit angkutan umum turun paling banyak di awal bulan Mei yaitu sekitar 70% sedangkan per 19 Juni penurunan keramaian sudah sedikit lebih baik yaitu sekitar 50%. Keramaian di perumahan atau tempat tinggal naik paling banyak di awal bulan Mei yaitu sekitar 25% sedangkan pada 19 Juni kenaikan keramaian tinggal 15% jika dibandingkan dengan data di bulan Januari.

Pasca pembatasan sosial-ekonomi, aktivitas ekspor dan impor Cina masih menunjukkan dibandingkan tahun 2019. Penurunan impor jauh lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor dan mengindikasikan aktivitas ekonomi domestik Cina yang masih belum pulih benar. Kesimpulan ini diambil setelah melihat perbandingan data antara Maret-Mei di tahun 2020 dan 2019. Dalam periode ini ekspor Cina turun 2,24% year-on-year dan impor turun 10,80% yoy.

Neraca perdagangan (barang) Indonesia cenderung membaik sejak pertengahan tahun 2019 akibat penurunan nilai impor yang melebihi penurunan nilai ekspor. Perkembangan ini terjadi seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional akibat kombinasi dari perang dagang Amerika Serikat dan Cina, kenaikan suku bunga di tahun 2018 untuk memperkuat nilai tukar rupiah, turunnya harga komoditas batu bara dan kelapa sawit dan turunnya belanja investasi dan belanja pemerintah pasca pemilihan umum tahun 2019 serta yang terakhir adalah pembatasan sosial berskala besar untuk membatasi penyebaran virus corona.

Antara Januari-Mei 2020, total ekspor Indonesia mencapai USD 64,4 miliar turun 6% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019. Antara Januari-Mei 2020, total impor Indonesia mencapai USD 60,1 miliar turun 15,6% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019. Antara Januari-Mei 2020, total neraca perdagangan surplus USD 4,31 miliar, jauh melebihi defisit USD 2,13 miliar yang terjadi pada periode yang sama di tahun 2019.

Inflasi Indonesia diperkirakan tumbuh 2,5% pada tahun 2020, lebih rendah dari prediksi di laporan April 2020 yaitu 2,7%. Akumulasi inflasi bulanan selama bulan Ramadhan dan liburan Idul Fitri tahun ini sangat rendah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (0,15% pada tahun 2020 vs. 1,68% pada tahun 2019 vs. 0,90% pada 2018). Permintaan agregat yang rendah akibat pembatasan sosial dan ekonomi telah mendorong turun harga-harga di saat biasanya permintaan sangat tinggi di hari raya.

Inflasi diperkirakan akan mulai naik pada bulan Juni seiring mulai dilaksanakannya tatanan hidup normal baru yang akan diikuti dengan mulai pulihnya aktivitas perekonomian nasional. Inflasi umum naik 0,18% month-on-month di Juni 2020 karena kenaikan harga kelompok makanan (terutama telur ayam) dan biaya transportasi (tiket pesawat), lebih tinggi dari inflasi 0,07% mom di Mei 2020.

Suku bunga Bank Indonesia 7-day reverse repo diperkirakan 4,0% pada akhir tahun 2020, lebih rendah dari prediksi kami sebelumnya yaitu 4,25%. Sinyal dari BI yang menunjukkan masih ada ruang untuk penurunan suku bunga acuan 7DRR adalah hasil lelang reverse repo tenor 12 bulan yang kembali turun ke level 4,34% pada akhir bulan Juni lalu dari sebelumnya di 4,59%.

Baca Juga :  Pergub dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan di Sumut Sudah Berlaku

Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan sangat rendah tahun ini membutuhkan suku bunga yang lebih rendah untuk kembali menghidupkan mesin ekonomi. Pada level 4,0%, maka suku bunga 7DRR masih lebih tinggi sebanyak 375 bps dibandingkan dengan suku bunga acuan Federal Reserve.

Bank Indonesia juga telah melakukan serangkaian kebijakan moneter selain penurunan suku bunga acuan seperti menurunkan giro wajib minimum perbankan, melakukan operasi moneter yang agresif untuk menambah likuiditas, melakukan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder dan primer dan berkoordinasi dengan pemerintah untuk meringankan beban pembiayaan stimulus fiskal.

BI telah melakukan injeksi likuiditas sekitar IDR 615 triliun (setara USD 42 miliar) sejak awal tahun hingga Juni. Kemungkinan BI akan kembali menambah pembelian obligasi pemerintah antara IDR 500-600 triliun (setara USD 35-40 miliar) setelah tercapai kesepakatan dengan Menteri Keuangan mengenai pembagian biaya stimulus penanganan pandemi COVID-19.

Sebagai perbandingan neraca Federal Reserve naik hampir USD 3 triliun, neraca ECB naik sekitar USD 1,1 triliun dan neraca BoJ naik USD 0,70 triliun antara Januari-Juni 2020 melalui injeksi likuiditas yang dikenal sebagai quantitative easing untuk meringankan dampak buruk pandemi.

The Fed paling tidak akan menambah injeksi likuiditas sebanyak USD 800 miliar lagi hingga akhir tahun 2020 dan dapat mencapai total USD 4,2 triliun hingga tahun 2022.

Defisit anggaran pemerintah diperkirakan sebesar 5% dari PDB, sedikit lebih besar dari prediksi sebelumnya yaitu 4,5% dari PDB. Turunnya anggaran penerimaan dan naiknya anggaran belanja pemerintah menjadi sebab dari defisit fiskal yang besar dan berada di atas angka 3%, antara tahun 2020 hingga tahun 2022.

Selama ini defisit maksimum 3% dari PDB menjadi batas keramat dari defisit anggaran pemerintah (UU 17/2003), dan memaksa diterbitkannya peraturan pengganti undang-undang no.1 tahun 2020 yang sudah disahkan menjadi undang-undang.

Penurunan penerimaan pajak dan penerimaan pemerintah non-pajak akibat melambatnya aktivitas ekonomi dan juga dampak dari stimulus fiskal pemerintah serta turunnya harga komoditas ekspor andalan.

Naiknya belanja pemerintah utamanya disebabkan oleh stimulus untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19. Sebagai pembanding defisit fiskal pemerintah federal AS diperkirakan mencapai 11% dari PDB pada tahun 2020 menurut laporan anggaran Kongres.

Yield obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia diperkirakan rata-rata 7,10% di tahun 2020, lebih rendah dari prediksi di April 2020 yakni rata-rata 8,20%.

Injeksi likuiditas besar-besaran oleh Federal Reserve, European Central Bank dan Bank of Japan dan bank sentral negara-negara maju lain untuk mengatasi krisis likuiditas dan sebagai bahan bakar untuk menyalakan mesin ekonomi global diharapkan akan menekan turun biaya utang global dan termasuk Indonesia.

Selain itu nilai tukar rupiah yang kembali menguat dan lebih stabil diharapkan kembali mendorong investor untuk kembali masuk pasar obligasi pemerintah Indonesia.

Rata-rata selisih yield obligasi tenor 10 tahun dari pemerintah Indonesia dan AS sebesar 629 bps di bulan Juni 2020 (year-to-date), lebih tinggi dari rata-rata 539 bps di sepanjang tahun 2019.

Keadaan ini terjadi karena rata-rata yield obligasi 10 tahun Indonesia turun menjadi 7,32% pada bulan Juni 2020 YTD dari rata-rata 7,53% di sepanjang 2019, sedangkan rata-rata yield obligasi AS turun ke kisaran 1,03% pada Juni 2020 YTD dari rata-rata 2,14% di sepanjang 2019.

Yield obligasi pemerintah Indonesia yang tinggi di antara negara-negara lain yang memiliki peringkat utang yang setara juga menjadi pertimbangan prediksi yield obligasi 10 tahun yang lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya.

Negara-negara dengan peringkat utang yang setara (berdasarkan perusahaan pemeringkat S&P) antara lain adalah India, Rusia, Meksiko dan Thailand. Yield obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia lebih tinggi sekitar 120-140 bps dibandingkan dengan yield obligasi 10 tahun dari negara-negara tersebut.

Bahkan jika dibandingkan dengan yield obligasi 10 tahun Thailand, yield obligasi 10 tahun Indonesia lebih tinggi sekitar 600 bps.

Rata-rata arus dana asing masuk ke obligasi rupiah pemerintah Indonesia antara IDR 80-120 triliun per tahun dalam sepuluh tahun terakhir walaupun kadang ada tahun yang buruk dimana terjadi arus dana asing keluar dalam jumlah besar seperti yang terjadi pada semester satu 2020.

Jika data historis berulang maka antara 2H2020 hingga akhir tahun 2021 akan terjadi arus dana asing masuk sekitar IDR 300 triliun ke obligasi rupiah pemerintah Indonesia. Jaminan suku bunga USD super rendah hingga tahun 2022 oleh Federal Reserve diharapkan akan mendorong pelaku keuangan global untuk kembali masuk ke pasar obligasi domestik.

Kurs USD/IDR diperkirakan rata-rata 14.550 pada tahun 2020. Rupiah lebih kuat terhadap dolar Amerika Serikat pada prediksi kami saat ini dibandingkan dengan sebelumnya dimana prediksi USD/IDR adalah rata-rata 15.625.

Pemerintah dan bank sentral AS yang tampaknya sungguh ingin mendukung ekonominya dengan cara memberikan stimulus fiskal dan moneter raksasa dan membuat stimulus fiskal dan moneter Indonesia seperti liliput sehingga potensial menyebabkan banjir likuiditas dolar yang mungkin menyebabkan mata uang USD ini melemah terhadap mata uang global termasuk rupiah jika melihat skenario yang serupa di tahun 2008-2011. Selain itu pertimbangan menurunnya defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di tahun 2020 ikut menentukan prediksi USD/IDR.

Kurs USD/IDR sudah bergerak turun drastis dari puncaknya di kisaran 16.700 di awal bulan April ke kisaran 14.000. Fluktuasi kurs yang diindikasikan dengan standar deviasi juga sudah turun banyak sehingga menyiratkan biaya lindung nilai yang lebih murah.

Kondisi ini biasanya positif untuk pasar obligasi pemerintah. Standar deviasi USD/IDR sudah turun menjadi 125 pips di bulan Juni dari 940 pips di bulan Maret. Perkembangan ini juga membawa pada revisi fluktuasi sepanjang tahun 2020 sebesar 500 pips dari sebelumnya 1000 pips. Artinya perkiraan rentang perdagangan USD/IDR di semester kedua tahun ini berada antara 14.000 hingga 15.000.

Cadangan devisa diproyeksikan sebesar USD 135 miliar pada akhir tahun 2020, lebih tinggi dari prediksi kami sebelumnya yakni USD 120 miliar.

Pertimbangan utama dari revisi ini adalah defisit transaksi berjalan yang menurun dan harapan akan adanya arus dana asing masuk ke aset portofolio dan investasi langsung pada semester kedua tahun ini.

Kami melihat ekonomi Indonesia mulai pulih pada kuartal ketiga dan menguat pada kuartal keempat tetapi masih tetap di bawah rata-rata normalnya sehingga kebutuhan impor barang dan jasa akan tetap rendah.

Selain itu ekonomi global yang diharapkan menguat pada semester kedua dan kondisi pasar keuangan yang lebih stabil akan mendorong masuk dana asing kembali ke Indonesia.

Penulis Adrian Panggabean adalah Chief Economist PT. Bank CIMB Niaga

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp