31.7 C
Jakarta
Senin, Maret 1, 2021

Brending Kambing Kontestan, Harga Jual Tinggi

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

Propublik.id, Jakarta – Peternak Kambing pedaging beralih ke kambing kontest ternyata harga jualnya jauh lebih mahal dibanding sebelumnya. Peternak kambing yang dimiliki Mamik, lokasinya berada di pegunungan Wonosalam, Kab Jombang, Jawa Timur, kerap mengikuti kontes, baik tingkat lokal maupun tingkat nasional.

Mamik mengatakan, mulai beternak kambing pedaging sejak tahun 2011 lalu beralih ke kambing branding yang bisa dikonteskan.

Awalnya kata Mamik setelah melihat temannya mengikuti kontest kambing di Jawa Tengah tahun 2013. Lalu membeli indukan betina seharga Rp5 juta. Setelah itu dimulailah usaha untuk memproduksi kambing branding yang bisa dikontestkan.

“Lama – kelamaan tidak lagi membeli indukan jantan, namun untuk membuntingkan kambing betina, dibawa ke teman – temannya agar bisa bunting,” ungkapnya seperti dilansir Ettawa Advanture pada Bale – Bale Farm yang diterima Propublik.id, Minggu (5/7/2020).

Diungkapkan Mamik, pertama kali mengikuti kontest, tahun 2016. Diambil dari hasil produksi kambing sendiri yang dirawat sejak bayi. Dan tidak ada kambing yang diikutkan kontes dari hasil beli.

“Pertama kali mengikuti kontest, masuk sepuluh besar dan menjadi kebanggaan tersendiri karena menjalankan proses produksi kambing selama tiga tahun,” imbuhnya.

Menurut pria kelahiran Wonosalam, selama mengikuti kontest pernah meraih juara pertama, kedua, dan ketiga. Sementara harga kambing yang dijual untuk kontest dijual seharga Rp50 juta per ekor, dari hasil produk sendiri sejak 2013.

“Jadi saya punya komitmen tidak akan ikut kontest kalau bukan dari hasil produk sendiri dan tidak pernah beli kambing untuk dikonteskan,” jelasnya.

Selain itu ia memberi edukasi kepada masyarakat Wonosalam bagi yang mau mengembangkan kambing branding untuk kontest.

“Apalagi harga kambing branding untuk kontest terbilang mahal maka dari itu untuk mengikuti kontest saya produksi sendiri,” jelasnya.

Namun dalam masa pandemi Covid-19 sekarang ini, tidak bisa mengikuti kontest karena pergerakan kambing menurun dan bahkan harga jual beli kambing pun menurun.

“Saya sangat memprihatinkan sekali, semoga Covid-19 ini berakhir. Biasanya sebelum Covid-19, kontest muncul sebulan sekali karena setiap bulan ada saja event kontest kambing baik tingkat nasional maupun tingkat provinsi dan lokal,” tandasnya.

Sementara di tahun 2020 ini, kontest tingkat nasional ada delapan dengan daerah yang berbeda. Oleh karena itu sebelum kambing dibawa ke luar kota harus benar – benar dijaga kesehatannya.

“Jadi kalau sudah sehat sudah fit bisa dibawa ke luar kota, memang berpengaruh juga,” terangnya.

Namun suka duka menjadi peternak kambing banyak yang dirasakan oleh Mamik. Salah satunya adalah tentang kesehatan kambing bahkan ada kambing yang sudah berkali – kali kawin tapi tidak bunting.

“Suka – sukanya ketika harga kambing itu mahal, kedua kalo masuk kontest bisa masuk sepuluh besar dan bisa angkat piala,” jelasnya.

Mamik pun mengakui, mengikuti kontest saja senangnya bukan main karena bertemu dengan teman – teman seluruh Indonesia. Jadi dengan silaturahmi ini katanya, bisa membuat Mamik terasa senang.

“Saat bertemu, bisa sharing bahkan bisa bisnis juga di tempat ajang kontes itu. Makanya kontes itu sebagai arena promosi kambing kita,” tukasnya.

Disamping itu ia membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar, terutama untuk kambing kontest, dengan tangan terbuka memberi edukasi kepada pemula.

“Sesuai misi saya, saya pengen bahwa Wonosalam menjadi pusatnya kambing Peranakan Ettawa, Jombang, itu cita – cita saya,” tandasnya.

Masih dijelaskan Mamik kepada pemula, harus memiliki semangat dan tidak boleh menyerah juga terus belajar dan bersilaturahmi dengan peternak – peternak lain.

Editor: Edward Panggabean

Berita Terkait

Berita Terkini

Diciduk Polisi Lagi, Tes Urine Millen Cyrus Positif Benzo

Propublik.id, Jakarta -- Selebgram Millen Cyrus kembali harus berurusan dengan aparat Polda Metro Jaya setelah terciduk saat berada di Kafe Brotherhood, Jakarta Selatan, pada...

650 Pendidik dan Tenaga Pendidik Disuntik Vaksin COVID-19

Propublik.id, Jakarta -- Pemerintah memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi pendidik dan tenaga pendidik (PTK), yang ditandai dengan pelaksanaan vaksinasi massal bagi 650 orang PTK...