5.7 C
Munich
Senin, Maret 8, 2021

Curhatan Windo Suami Melvin Sebelum Sang Istri Dan Calon Bayinya Meninggal di RS Daerah Bethesda Tomohon

Must read

Propublik.id, Sulawesi Utara-Sedih, seakan tak rela ketika sang istri tercinta dan bayi yang sudah dinanti-nantikan. Semua peralatan dan perlengkapan untuk menyambut sang buah hati sudah disiapkan. Namun semua itu langsung sirna seketika. Sang istri dan calon bayinya tak bisa diselamatkan saat di rawat di Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda Tomohon.

Hal inilah yang dialami Suami dari ibu yang meninggal dengan bayinya dalam kandungan, Windo Fernando Mailangkay (40) warga Desa Wolaang, Kecamatan Langowan Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Istrinya Melvin Amelia Suak (33), tak bisa diselamatkan karena diduga akibat lambatnya penangan medis setelah sempat dirawat selama 3 hari di Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda Tomohon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Jumat (10/4/2010) dini hari sekira pukul 01.00 Wita.

Windo menceritakan, sebelum meninggal, dia membawa istrinya ke RS Bethesda pada Selasa (7/4/2020) menjelang malam. RS tersebut menjadi pilihan mereka karena selama kehamilan, mereka selalu ddatang memeriksa di Klinik Ratu di Kawangkoan

Dimana di klinitk tersebut terdapat seorang dokter kandungan berinisial dr NMW.SpOG (K) yang katanya bekerja di RS Bethesda tersebut.

“Seminggu sebelum kami datang di rumah sakit ini, kami melakukan cek di Klinik Ratu di Kawangkoan. Dari hasil pemeriksa, dokternya mengatakan, ibu dan bayi sehat dan bila dalam 7 hari taka da perkembangan, langsung dibawa ke RS Bethesda. Dokter itu mengatakan kalu dia memang bekerja di rumah sakat tersebut. Jadi setelah 7 hari kemudian, karena mulai ada reaksi sakit dari isti, jadi saya langsung bawa ke rumah sakit sesuai anjuran dokter,” ujar Windo, kepada media ini, Kamis (16/4/2020).

“Satu jam perjalan tiba di RS Bethesda. Windo ditemani kedua mertuanya, masuk ke ruang UGD dan saat itu mendapat pelayanan yang normal. Dimana beberapa menit kemudian Istrinya di pindahkan ke ruangan bersalin.

“Saat itu kami diterima. Dan beberapa saat kemudian usai diperiksa di kamar bersalin, langsung dibawa ke kamar inap Maria nomor 4. Sejak itu hingga besoknya, kami hanya diminta menunggu adanya reaksi. Namun pihak perawat dan dokter jaga yang menangai istri saya sudah mengetahui sebelumnya kalau kondisi baik istrina dan bayi dalam kandungan sehat,” kata Windo yang memiliki anak satu itu.

Dua hari kemudian, atau sekitar pukul 09.00 Wita, usai dilakukan pengecekan oleh petigas medis, dia didampingi ibu mertuanya, dipanggil ke dalam ruang bersalin untuk meminta menandatangi ijin keluarga untuk dilakukan prosedur operasi.

“Pagi itu kami dipanggil perawat. Mereka menyampaikan untuk mengantisipasi kemungkinan, maka perlu mendapat persetujuan kami untuk dilakukan tindakan operasi. Mereka menyampaikan bila tidak ada perubahan hingga pukul 17.00 Wita, maka proses operasi dilakukan,” kisah dia.

“Namun setelah jam yang ditentukan tiba, kami menghubungi perawat. Namun tak dilayani. Tambah lagi rasa sakit yang dirasakan istri saya tiap menit tambah sakit sejak hari pertama masuk,” sambung Windo.

Tiap menit istrinya terus meringik kesakitan luar biasa. Berkali-kali Windo menghubungi perwat maupun dokter dan petugas yang berada di dalam ruangan bersalin. Namun tak dilayani. Yang ada hana disuruh menunggu dan mengajak jalan istrinya.

“Sudah berkali-kali saya hubungi perawat. Tak juga dilayani. Hanya disuruh jalan-jalan. Tapi karena kecapean dan istri saya terus mengeluh sakit dan tak tahan lagi, maka saya baringkan dia dalam kasur,” jelasnya.

Belum lama berbaring, tiba-tiba reaksi untuk melahirkan muncul, dengan munculnya cairan yang membasahi temat tidur. Windo pun langsung keluar berlari dan menghubungi perawat. Dengan harapan istrinya mungkin bisa langsung ditangani.

Namun harapan tersebut salah. Usai diberitahu adanya reaksi tersebut, ternyata perawat hanya menyuruh Windo sama. Yakni mengajak istrinya jalan-jalan.

“Saya sudah memberitahukan ke mereka. Tapi rekasi munculnya cairan tersebut hanya disuruh jalan-jalan. Agak kesal saat itu, tapi saya masih mengikuti petunjuk perawatnya. Jadi saya kembali menjemput istri saya lalu mengajak jalan. Hanya saja baru beberapa saat. Istri saya mengatakan dirinyaa sudah tak tahan karena sakitnya semakin sakit. Tambah lagi sudah mulai merasa kelelahan,” cerita Windo sambil menarik nafas panjang penyesalan.

Berjam-jam tak ada petunjuk dari Dokter jaga maupun perawat. Windo pun langsung bertindak karena istrinya terus mengeluh sakit luar biasa. Dia membawa masuk istrinya kedepan ruang bersalin tanpa perintah dari dokter.

Kedati sempat diusir keluar ruangan karena sedang menangani pasien melahirkan lain, namun kesabaran Windo berbuah.

“Saya langsung bawa masuk istri saya. Sempat disuruh keluar karena memang ada pasien, namun setelah selesai dengan pasien itu, saya terobos masuk lagi dan saat itu langsung ditangan. Waktu itu sudah sekitar jam 9 malam. Dan istri saya semakin lemas saat itu,” cerita Windo.

Tak berapa lama kemudian, seorang perawat Sempat meminta siapkan perlengkapan bayi. Sempat merasa senang, namun dua jam menunggu, tak ada perkembangan.

“Dua jam lebih, belum juga melahirkan jadi saya mendekati Istri saya dan memberikan semangat. Namun kondisi Istri saya sudah semakin lemah. Dia selalu mengelu sakit tak tertahankan dan lelah. Dan tiba-tiba istri saya mengeluarkan darah dari mulutnya,” kenang dia sembari meneteskan air mata.

“Saya langsung bergegas menghubungi petugas. Tapi tak ada respon. Putus asah, saya memohon agar bisa menelamatkan istri dan merelakan bayi kami. Tapi tetap juga tak ditanggapi. Hanya disuruh menunggu dokter,” kisah Windo.

Saat muncul seorang dokter jaga laki-laki, dan menangani istrinya yang sudah terbaring lemah diruang bersalin, harapan Windo terbuka. Namun semuanya berubah menjadi duka yang mendalam. Melvin sempat mendapat perawatan itensif, namun tak berapa lama, Istrinya dipindahkan ke ruang ICU dengan kondisi tak sadarkan diri, hingga mendapat kabar kalau istrinya sudah berada di kamar Jenazah.

Sejak berada di rumah sakit tersebut, dokter NMW tak pernah datang melihat atau memeriksa kondisi Melvin dan bayi yang dikandungnya. Namun selain bidan atau perawat yang sempat menangani, juga ada dokter jaga perempuan lain yang sempat menangani Melvin selama dirawat. Saat di masa kritis, ada seorang dokter jaga laki-laki juga yang ikut menangani.

Editor: Edward Panggabean

More articles

Latest article