28.1 C
Jakarta
Minggu, Februari 28, 2021

Dampak Covid-19, Aktivis: Pemerintah Kurang Perhatian Terhadap Pengungsi Asing

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

ProPublik.id, Jakarta-Kalangan aktivis sosial kemanusian mempertanyakan perhatian Pemerintah terhadap para pengungsi asing yang tinggal di Indonesia selama penanganan wabah pandemi Covid-19, terutama terkait bantuan sosial, sejak diberlakukannya Work From Home (WFH) dan Pembatasan sosial berskala Besar (PSBB).

Adapun diskusi para aktivis sosial melalui sarana video confrensi pada 19 Juni 2020 selama peringatan Hari Pengungsi Sedunia tahun 2020 diikuti oleh Koalisi LSM Indonesia untuk Advokasi Hak Asasi Manusia Internasional (HRWG), LBH Jakarta, Suaka, Sisterhood, RLC, Smart, Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dan akademisi.

Ketua SUAKA Rizka Argadianti mengatakan selama ini para pengungsi asing hidup secara mandiri dan menggantungkan hidup atas dukungan finansial dari kerabat dan teman maupun organisasi sosial.

Namun, tiba-tiba dukungan mereka terhenti dan mereka dapat bertahan dengan sedikit dukungan dari orang-orang di sekitar. Kalau pun katanya ada bantuan dari organisasi sosial, tapi itu sangat terbatas dan tidak dapat mencakup semua pengungsi independen.

“Secara fakta, para pengungsi tidak memiliki akses ke mata pencaharian, sehingga membuat pengungsi tidak memiliki sarana untuk menjadi mandiri,” ujar Rizka dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (22/6/2020).

Dari diskusi para aktivis sosial kata dia, bahwa sistem Respons COVID-19 Nasional di Indonesia tidak secara khusus menyebutkan pengungsi pada sistem layanan mereka. Karena alasan ini, para pengungsi berada dalam posisi paling rentan dibandingkan dengan penduduk lokal. Peran pengungsi untuk merespons situasi COVID-19 sangat signifikan.

“Kisah-kisah mereka menginspirasi dan karya-karya melibatkan kolaborasi dengan masyarakat setempat. Inspirasi ini memicu kami untuk menyajikan diskusi publik: Belajar dari pengungsi dalam menanggapi COVID-19,” ujar Rizka.

Mereka melihat sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki kebijakan yang lebih baik terhadap perlindungan pengungsi, pasalnya kelompok paling rentan yang tinggal di Indonesia. Alasannya, karena mereka tidak memiliki kerangka hukum tertentu yang dapat melindungi hak-hak mereka di Indonesia.

“Perpres tahun 2016 tentang Pengungsi masih merupakan satu-satunya kerangka hukum yang mengatur secara spesifik tentang pengungsi, tetapi lebih pada aspek administratif, masih kurang dalam aspek perlindungan hak-hak mereka,” ungkapnya.

Namun demikian, Indonesia telah membuat beberapa kemajuan dalam masalah ini, seperti Perpres 125/2016 tentang Pengungsi dan juga memiliki Satuan Tugas Pengungsi untuk mengoordinasikan mitigasi tentang masalah pengungsi di Indonesia.

“Apakah cukup? Pemerintah harus dan dapat berbuat lebih banyak. Perlu dicatat bahwa mitigasi pengungsi di Indonesia masih memiliki masalah klasik seperti tumpang tindih kebijakan dan ketidakjelasan koordinasi, terutama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” ungkapnya.

Lanjut Rizka, seyogianya Pemerintah Indonesia harus mengikuti tren global, yaitu inklusi atau merangkul tanpa perbedaan. Indonesia harus lebih melibatkan partisipasi pengungsi untuk berkontribusi terhadap masyarakat tuan rumah mereka. Inklusi ini akan mempromosikan kolaborasi berbasis komunitas, mengatasi perpecahan, dan mempunyai arti lebih terbuka serta memandang secara objektif keterlibatan dalam kegiatan ekonomi.

“Kita tidak bisa menunggu pemerintah kami untuk mengambil tindakan yang cepat tanggap. Masyarakat Indonesia bisa dan sudah mengambil langkah awal dalam mewujudkan inklusi terhadap pengungsi. Jika kita ingat orang yang menyelamatkan perahu Rohingya di Aceh pada 2015, mereka bukan pemerintah, mereka adalah nelayan, yang mengutamakan rasa kemanusiaan, daripada terus memancing untuk mata pencaharian mereka sendiri,” kata Rizka, ketika merefleksikan krisis pengungsi Rohingya 2015.

Inisiatif dari komunitas pengungsi sendiri juga harus diakui. Anggota komunitas yang mampu memahami bahasa Inggris atau bahkan Indonesia membantu anggota komunitas mereka untuk memahami informasi terkait pandemi. Mereka juga tidak mengabaikan masyarakat di sekitar mereka sebagai tetangga.

“Kami tidak pernah melupakan tetangga Indonesia kami, yang juga mengalami kelaparan seperti kami. Berbagi berarti peduli. Kami menunjukkan rasa hormat dan kasih kepada mereka setelah mereka memberi kami kedamaian dan perlindungan.” kata Nimo Ali dari Somalia yang baru belajar apa yang dimaksud Sembako selama COVID-19.

Dia menjelaskan dalam diskusi tersebut bagaimana keterlibatannya dalam pendistribusian Sembako di lingkungan tetangganya selain menyediakan kelas jarak jauh kepada pengungsi perempuan lewat Sisterhood.

Guru dan administrasi Community Learning Center (LC) seperti Refugee Leaning Center bersama 7 LC lainnya di Cisarua, Bogor membantu siswa dan keluarga mereka untuk memahami situasi dan menjaga siswa dengan program akademis mereka melalui pembelajaran jarak jauh, seperti dijelaskan oleh Sikandar Ali, menejer dan kepala sekolah RLC.

Hakmat Zikari selaku pendiri Skilled Migrants and Refugee Technicians (SMART), salah satu dari Inisiatif Berbasis Komunitas, menjelaskan bahwa SMART juga membantu komunitas berbahasa Farsi untuk membuat video pendek atau konten kreatif di media sosial untuk menjembatani hambatan bahasa mereka sembari meninggu dalam period yang tak pasti di Indonesia.

Walaupun banyak orang Indonesia tidak memahami tentang kehidupan pengungsi luar negeri, tapi buat mereka yang paham tentang kesulitan yang dihadapi para pengungsi telah mengkontribusikan upaya mereka untuk menjembatani ketidak tahuan dan pemahana, seperti Realisa Masardi.

Dosen Universitas Gajah Mada di Yogyakarta ini pertama kali berinteraksi dengan pengungsi pada 2012 saat melakukan penelitian ilmiah. Saat pandemic Covid19, ia menggalang bantuan untuk didistribusikan kepada komunitas pengungsi di Jakarta dan Cisarua.

Ini adalah pesan yang perlu disebarkan selama peringatan tahun ini untuk Hari Pengungsi Sedunia tahun 2020.

“Panelis dalam diskusi ini adalah contoh utama bahwa dengan kolaborasi dan kontribusi dari semua orang, para pengungsi diberdayakan dapat memberikan banyak hal baik kepada tuan rumah mereka komunitas, ke Indonesia ”kata Roswita Kristy dari JRS Indonesia.

Kesempatan untuk mendapatkan peluang dan pengalaman yang sama, kesempatan untuk ambil bagian dan dilibatkan sebagai bagian dari masyarakat adalah penting untuk memastikan bahwa tidak ada yang meninggalkan kemajuan membangun komunitas yang kuat dan bermartabat, dan itu berarti #TermasukPengungsi #RefugeeIncluded.

Editor: Nathalia

Berita Terkait

Berita Terkini

Diciduk Polisi Lagi, Tes Urine Millen Cyrus Positif Benzo

Propublik.id, Jakarta -- Selebgram Millen Cyrus kembali harus berurusan dengan aparat Polda Metro Jaya setelah terciduk saat berada di Kafe Brotherhood, Jakarta Selatan, pada...

650 Pendidik dan Tenaga Pendidik Disuntik Vaksin COVID-19

Propublik.id, Jakarta -- Pemerintah memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi pendidik dan tenaga pendidik (PTK), yang ditandai dengan pelaksanaan vaksinasi massal bagi 650 orang PTK...