31.4 C
Jakarta
Senin, Maret 1, 2021

Gerakan Boikot Iklan di Facebook Semakin Massif

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

Propublik.id, AS-Gerakan memboikot pemasangan iklan di Facebook semakin massif. Aksi yang dipicu netizen Amerika Serikat melalui kampanye bertagar (hashtag) Stop Hate for Profit (Hentikan Kebencian demi Laba) ini mulai mendapatkan dukungan perusahaan-perusahaan ternama di AS. Nama-nama besar seperti Verizon, Ford, Pfizer, Honda, Unilever, Coca-Cola, Best Buy, serta Adidas dan Reebok secara resmi bergabung dalam kampanye tersebut dan menarik iklan mereka dari Facebook dan Instagram.

Perusahaan besar lain yang tidak termasuk dalam kelompok pengiklan besar namun bergabung dalam kampanye ini antara lain, Volkswagen AS, Intercontinental Hotels Group, Levi Strauss & Co., serta raksasa farmasi AS, HVS Health.

Tiga brand besar lainnya ikut melakukan boikot pemasangan iklan di Facebook meskipun tidak secara resmi bergabung dalam kampanye #StopHateforProfit. Mereka adalah Microsoft, Starbucks, dan Pepsi.

Hingga akhir Juni, jumlah perusahaan yang bergabung dalam gerakan ini telah mencapai 160-an. NBCnews bahkan memperkirakan sekitar 530 perusahaan akan bergabung dalam gerakan ini.

Kampanye ini diinisiasi oleh Anti-Defamation League dan beberapa kelompok gerakan pembela HAM yang dimulai sejak 17 Juni 2020 lalu. Melalui aksi ini mereka mendorong perusahaan-perusahaan pengiklan di Facebook dan Instagram untuk menghentikan pamasangan iklan selama bulan Juli 2020 di raksasa media sosial tersebut. Menurut mereka perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg tersebut tetap mengabaikan imbauan untuk memfilter ujaran kebencian, fitnah dan konten-konten berisi hasutan yang bertebaran di platform tersebut.

“Apa yang mereka lakukan dengan pendapatan sebesar US$ 70 miliar dan laba sebesar $17 miliar (2019)?” tulis para inisiator dalam surat terbuka kepada Facebook.

Dalam laman stophateforprofit.org disebutkan bahwa 99% dari pendapatan Facebook pada 2019 yang mencapai US$70 miliar (sekira Rp 1.000 triliun) berasal dari iklan. Namun, dengan pendapatan yang demikian besar, Facebook seakan tak mampu mengambil langkah dan menutup mata terhadap berbagai ujaran kebencian, fitnahan, dan kekerasan yang disampaikan melalui saluran media sosial tersebut.

“Keuntunganmu tidak akan bernilai bila mempromosikan kebencian, fanatisme, rasisme, antisemitisme, dan kekerasan,” tulis laman tersebut.

Menjawabi tudingan tersebut, CEO Facebook Mark Zuckerberg pada Jumat, 26 Juni, menjelaskan bahwa Facebook hanya akan memasang label peringatan di postingan yang dipandang melanggar aturan tetapi tetap bernilai berita.

Salah satu contoh yang mengundang reaksi negatif adalah postingan bernada provokatif dari Presiden Donald Trump. Dalam postingan terkait aksi penjarahan dan sikap brutal aparat di negara bagian Minnesota, AS, Presiden Trump antara lain menulis: “… Saat penjarahan dimulai, penembakan pun dimulai!” Sejumlah pihak menilai postingan seperti ini tidak layak tayang di jejaring sosial seperti Facebook. Label peringatan saja tidak cukup untuk menghilangkan nada hasutan dalam postingan tersebut.

 

Editor: Edward Panggabean

Berita Terkait

Berita Terkini

Diciduk Polisi Lagi, Tes Urine Millen Cyrus Positif Benzo

Propublik.id, Jakarta -- Selebgram Millen Cyrus kembali harus berurusan dengan aparat Polda Metro Jaya setelah terciduk saat berada di Kafe Brotherhood, Jakarta Selatan, pada...

650 Pendidik dan Tenaga Pendidik Disuntik Vaksin COVID-19

Propublik.id, Jakarta -- Pemerintah memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi pendidik dan tenaga pendidik (PTK), yang ditandai dengan pelaksanaan vaksinasi massal bagi 650 orang PTK...