26.5 C
Jakarta
Jumat, Januari 22, 2021

DBS Group Research: ‘Indonesia: Kebijakan Moneter Ekstra Hati-Hati’

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.
Iman More || Reporter: Edward Panggabeanhttp://www.dbs.co.id
Radhika Rao adalah ekonom di DBS Group Research

Rangkuman analisa:
· Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dalam dua bulan terakhir
· Tekanan terhadap rupiah menimbulkan kekhawatiran
· Fokus pada kebijakan yang non-konvensional
· Pasar mengawasi jangka waktu dan akhir dari langkah tersebut

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga untuk kedua kali dalam dua bulan berturut-turut, sesuai dengan prediksi kami, karena stabilitas pasar keuangan lebih penting. Inflasi yang di bawah target dan kemungkinan kontraksi pertumbuhan ekonomi selama setahun penuh membuat pelonggaran lebih lanjut memang diperlukan, tetapi kinerja rupiah akhir-akhir ini (-3,8% sejak awal triwulan hingga hari ini vs dolar AS) menimbulkan kekhawatiran.

Hal itu sebagian dipicu oleh kekhawatiran atas perpanjangan jangka waktu monetisasi utang serta independensi bank sentral. Hal yang membesarkan hati adalah bahwa dalam pernyataan baru-baru ini, pemerintah memberi jaminan bahwa perubahan anggaran dasar BI akan ditinjau kembali dan independensi bank sentral tidak akan dikurangi.

Fokus bank sentral telah beralih, ke kebijakan yang tidak konvensional, termasuk berpartisipasi dalam rencana pengeluaran fiskal tahun ini dan penstabilan pasar obligasi domestik melalui pembelian utang langsung maupun di pasar sekunder.

Pemerintah telah menyelesaikan penerbitan obligasi bruto tahunan sebesar ~63% atau setara dengan Rp957,4 triliun pada pertengahan September. Dua pertiga dari nilai tersebut, yaitu Rp588 triliun, melalui obligasi konvensional, Rp270 triliun melalui surat berharga syariah, dan 10% melalui penjualan langsung ke bank sentral. Itu berarti bank sentral melakukan pembelian langsung sekitar seperempat dari kewajiban selama setahun.

Obligasi senilai Rp573,6 triliun diperkirakan diterbitkan pada sisa tahun ini, dengan rincian lelang obligasi senilai Rp249,6 triliun, penjualan langsung ke bank sentral senilai Rp298,5 triliun, dan sisanya melalui penawaran obligasi ritel. Itu menunjukkan bahwa bank sentral akan menuntaskan sebagian besar kesertaannya dalam tiga bulan terakhir tahun ini.

Kami mencatat dalam riset kami, berjudul Indonesia: Tough policy choices amid downside risks, bahwa kinerja fiskal sejak awal tahun lebih lambat daripada beberapa tahun terakhir, dengan pencairan stimulus terkait Covid-19 mencapai sedikit lebih dari sepertiga pada September.

Jika pengeluaran terus berjalan di bawah tingkat yang dianggarkan dan bahkan setelah mempertimbangkan potensi kekurangan dalam pengumpulan pendapatan, defisit fiskal setahun penuh mungkin 0,5-1,0%, lebih kecil daripada yang dianggarkan, sebesar -6,3% dari PDB, dan dengan demikian membuka peluang untuk memperkecil program pinjaman. Meskipun demikian, pengeluaran lebih sedikit menimbulkan risiko penurunan pertumbuhan, saat ibu kota negara memberlakukan kembali pembatasan sosial sebagian untuk menahan peningkatan kasus Covid-19.

Pasar tertarik untuk mengukur jangka waktu dari langkah itu, dengan BI berperan sebagai penyeimbang karena bank sentral melihat kesertaan pada tahun ini hanya tindakan “satu kali” tetapi berencana untuk mempertahankan perannya sebagai pembeli siaga pada tahun depan, jika pemulihan ternyata tidak terjadi.

Pasar dan investor juga akan mencari kejelasan tentang kemungkinan akhir dari program pembelian utang tersebut dan dampaknya pada likuiditas. Dengan investor kemungkinan mengawasi ruang ini dengan cermat, kebutuhan mempertahankan perbedaan suku bunga menguntungkan akan menjadi kunci.

Oleh karena itu, kemungkinan besar akan ada jeda penurunan suku bunga hingga sisa tahun ini, dengan penekanan pada transmisi kebijakan efektif.

Radhika Rao adalah ekonom di DBS Group Research

Berita Terkait

Tinggalkan pesan anda

Ketik komentar anda
Masukan nama anda

Berita Terkini

Mengharukan…Wakapolres Subang Bangun Rumah Tidak Layak Huni Milik Kopka Hamim

Subang – Kopka Hamim Mulyono salah satu Anggota Koramil Purwadadi yang baik dalam penugasan, namun disatu sisi kehidupan pribadinya cukup memprihatinkan, dimana yang bersangkutan...

Kades Tanjung Siang Subang Dukung Komjen Listyo Jadi Kapolri

SUBANG //- Pencalonan Kepala Bareskrim (Kabareskrim Polri) Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Kabupaten Subang. Masyarakat Kabupaten Subang...