Infografis oleh DBS Group Research
Infografis oleh DBS Group Research

DBS Group Research: ‘Indonesia: Kebijakan Moneter Ekstra Hati-Hati’

Rangkuman analisa:
· Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dalam dua bulan terakhir
· Tekanan terhadap rupiah menimbulkan kekhawatiran
· Fokus pada kebijakan yang non-konvensional
· Pasar mengawasi jangka waktu dan akhir dari langkah tersebut

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga untuk kedua kali dalam dua bulan berturut-turut, sesuai dengan prediksi kami, karena stabilitas pasar keuangan lebih penting. Inflasi yang di bawah target dan kemungkinan kontraksi pertumbuhan ekonomi selama setahun penuh membuat pelonggaran lebih lanjut memang diperlukan, tetapi kinerja rupiah akhir-akhir ini (-3,8% sejak awal triwulan hingga hari ini vs dolar AS) menimbulkan kekhawatiran.

Hal itu sebagian dipicu oleh kekhawatiran atas perpanjangan jangka waktu monetisasi utang serta independensi bank sentral. Hal yang membesarkan hati adalah bahwa dalam pernyataan baru-baru ini, pemerintah memberi jaminan bahwa perubahan anggaran dasar BI akan ditinjau kembali dan independensi bank sentral tidak akan dikurangi.

Fokus bank sentral telah beralih, ke kebijakan yang tidak konvensional, termasuk berpartisipasi dalam rencana pengeluaran fiskal tahun ini dan penstabilan pasar obligasi domestik melalui pembelian utang langsung maupun di pasar sekunder.

Pemerintah telah menyelesaikan penerbitan obligasi bruto tahunan sebesar ~63% atau setara dengan Rp957,4 triliun pada pertengahan September. Dua pertiga dari nilai tersebut, yaitu Rp588 triliun, melalui obligasi konvensional, Rp270 triliun melalui surat berharga syariah, dan 10% melalui penjualan langsung ke bank sentral. Itu berarti bank sentral melakukan pembelian langsung sekitar seperempat dari kewajiban selama setahun.

Obligasi senilai Rp573,6 triliun diperkirakan diterbitkan pada sisa tahun ini, dengan rincian lelang obligasi senilai Rp249,6 triliun, penjualan langsung ke bank sentral senilai Rp298,5 triliun, dan sisanya melalui penawaran obligasi ritel. Itu menunjukkan bahwa bank sentral akan menuntaskan sebagian besar kesertaannya dalam tiga bulan terakhir tahun ini.

Kami mencatat dalam riset kami, berjudul Indonesia: Tough policy choices amid downside risks, bahwa kinerja fiskal sejak awal tahun lebih lambat daripada beberapa tahun terakhir, dengan pencairan stimulus terkait Covid-19 mencapai sedikit lebih dari sepertiga pada September.

Jika pengeluaran terus berjalan di bawah tingkat yang dianggarkan dan bahkan setelah mempertimbangkan potensi kekurangan dalam pengumpulan pendapatan, defisit fiskal setahun penuh mungkin 0,5-1,0%, lebih kecil daripada yang dianggarkan, sebesar -6,3% dari PDB, dan dengan demikian membuka peluang untuk memperkecil program pinjaman. Meskipun demikian, pengeluaran lebih sedikit menimbulkan risiko penurunan pertumbuhan, saat ibu kota negara memberlakukan kembali pembatasan sosial sebagian untuk menahan peningkatan kasus Covid-19.

Pasar tertarik untuk mengukur jangka waktu dari langkah itu, dengan BI berperan sebagai penyeimbang karena bank sentral melihat kesertaan pada tahun ini hanya tindakan “satu kali” tetapi berencana untuk mempertahankan perannya sebagai pembeli siaga pada tahun depan, jika pemulihan ternyata tidak terjadi.

Pasar dan investor juga akan mencari kejelasan tentang kemungkinan akhir dari program pembelian utang tersebut dan dampaknya pada likuiditas. Dengan investor kemungkinan mengawasi ruang ini dengan cermat, kebutuhan mempertahankan perbedaan suku bunga menguntungkan akan menjadi kunci.

Oleh karena itu, kemungkinan besar akan ada jeda penurunan suku bunga hingga sisa tahun ini, dengan penekanan pada transmisi kebijakan efektif.

Radhika Rao adalah ekonom di DBS Group Research

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Apa komentarmu?