26.3 C
Jakarta
Sabtu, Maret 6, 2021

Istri Pidanakan Suami, Terdakwa Hasim Beberkan Kasusnya Di Persidangan

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

ProPublik.id, Jakarta-Hasim Sukamto duduk dikursi pesakitan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, di penghujung putusan kasusnya itu, Hasim yang menjadi terdakwa bercerita dihadapan majelis hakim ihwal kasus yang menjerat dirinya. Ternyata diakui sang istri sendiri bernama Meliana yang menyeretnya ke unsur pidana dalam perkara dugaan pemalsuan tanda tangan dan cap jempol surat pinjaman dana ke Bank.

Pada persidangan di PN Jakut, Rabu 29 Juli 2020, dengan agenda pemeriksaan terdakwa, Jaksa Penuntut Umum, sempat bertanya kepada Hasim, apakah sebelumnya terdakwa, juga pernah dilaporkan dan berapa kali oleh Meliana.

“Iya, saya pernah dilaporkan dua kali oleh istri saya Meliana, dengan laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Polres Jakarta Utara dengan dua pembatu rumah tangga (PRT) saya dijadikan saksi juga juga dengan rekaman CCTV yang ada dirumah,” kata Hasim dalam persidangan.

Namun semua itu, lanjut dia tidak terbukti, karna tidak cukup bukti maka di SP3 oleh Kepolisian.

Sementara, saat ditanya ketua majelis hakim Djumianto, terdakwa Hasim Sukamto mengatakan, dirinya sudah empat atau lima kali diperiksa oleh penyidik Polisi dalam perkara ini. Dia pun bersaksi awal perusahaannya berdiri dengan berbentuk Perusahan Dagang (PD) pada tahun 1978.

“Seiring berjalannya waktu perusahaan tersebut berkembang menjadi PT. Hasdi Mustika Utama,” terang Hasim.

Hasim juga menjelaskan, bahwa PT. Hasdi Mustika Utama adalah perusahan keluarga, pada saat itu Hasim menjabat sebagi Direktur di PT. HMU dan mengelola perusahaan tersebut bersama adik dan kedua kakaknya.

“Namanya perusahaan keluarga, beberapa aset ada atas nama saya pribadi dan ada juga aset atas nama kakak saya Hadi Sukamto, Hasan Sukamto dan adik saya Lisa Sukamto, aset-aset perusahaan itu juga dijaminkan ke Bank untuk mendapatkan modal kerja bagi perusahaan, dan itu semua merupakan aset perusahaan”, kata Hasim.

Hasim melanjutkan, dirinya diberi saham perusahaan sebesar 20 persen, kakaknya Hasan juga 20 persen berjalan sampai tahun 2008, kemudian orang tuanya memberikan lagi tambahan saham ke mereka bertiga.

“Sehingga murni orang tua tidak lagi mengurusi dan mundur dari perusahaan,” ujarnya.

Lalu, perusahaan membeli satu aset di Sunter Agung dan satu aset lagi dibilangan Yos Sudarso dengan menggunakan uang perusahaan. Surat itu atas nama dirinya dan Hasan. Lalu, membeli satu gudang dengan atas nama Hadi dan Lisa Sukamto yang merupakan kakak dan adiknya.

“Sejak tahun 2001 sampai 2004 itu sertifikat aset yang di Sunter sudah kita jaminkan di Bank BCA, waktu menjaminkan ke Bank BCA itu semua istri-istri pada tahu dan setiap tahun harus datang dan berkumpul untuk melakukan tanda tangan perpanjang kredit,” terang Hasim.

Saat disinggung oleh Majelis hakim mengenai pembiayaan perusahaan apakah ada yang diambil dari uang pribadi atau saudara terdakwa.

“Tidak ada yang mulia” kata Hasim seraya melanjutkan, kalau uang peribadi ya, kita pakai untuk keluarga masing-masing.

Lalu, kepada majelis Hakim dia bertutur, ketika perusahaan membeli aset di Sunter, menggunakan uang perusahaan seharga Rp 700 juta, dan sertifikatnya diatas namakan Hasim dan Hasan Sukamto. Lalu, ada juga atas nama Hadi dan Lisa.

“Namun yang menjadi masalah ini hanya atas nama saya dan Hasan Sukamto,” kata Hasim.

Bahkan, sebelum perkara ini sampai ke pengadilan pihaknya sudah melakukan mediasi antara dirinya dengan istrinya Meliana dan ketiga anaknya.

“Anak-anak saya mengatakan ini bukan aset kita Ma, ini kan aset perusahaan, dan kita semua mengetahui itu,” terang Hasim

Lalu, ketika sempat ada sertifikat over take kredit, sang Istri Meliana tidak menandatangani dari Bank Commonwealth ke Bank CIMB Niaga. Karena itu dia membawa pulang lagi. Tiba dirumah, dia bertemu istri dan mengatakan agar surat itu di tanda tangani Meliana.

“Namun, ia (istri saya) tidak berkata-kata apa-apa, hanya menganggukan kepala saja,” jelas Hasim.

Pada, keesokan pagi hari ketika hendak berangkat kerja, Hasim mengambil dokumen itu diatas meja kamar, tanpa melihat lagi isi surat tersebut, karena sudah dianggap rutinitas kerap dilakukan ketika ada documen yang mesti ditandatangani.

“Memang, kondisi rumah tangga sedang tidak baik karna sering cek-cok, kemudian sampai dikantor saya melihat dokumen sudah ditandatangani oleh istri saya,” ungkap Hasim.

Hasim juga menjelaskan, para istri juga sudah mengetahui dan ditanya juga oleh hakim kenapa waktu Meliana tidak datang, tidak ada rasa kebingungan, tidak ada rasa kecurigaan serta kekehawatiran karena kredit itu perlu untuk dicairkan.

“Itu karena sudah dilakukan selama bertahun tahun dan selama ini tidak ada masalah, perkara ini terjadi pada tahun 2017, para istri selalu diminta hadir, dan kalau berhalangan biasanya akan dijadwalkan kemudian hari, karena hal itu sudah biasa, dan para istri sudah mengetahui bahwasannya itu di perpanjang seperti biasanya,” tandas Hasim.

Sebelum menutup persidangan, majelis hakim sempat menanyakan apa harapan dan penilaian terdakwa dari perkara ini. Hasim hanya mengatakan, buatnya perselisihan dalam rumah tangga hal yang biasa, tapi jangan sampai saling mempidanakan.

Editor: Edward Panggabean

Berita Terkait

Berita Terkini

Sandyakalaning Trah Cikeas

Bolehlah sementara Rakyat indonesia lanjutkan mimpi Moeldoko jadi orang nomor satu NKRI pasca pecundangi SBY. Diskursus Politik indonesia unpredictable (tak gampang ditebak) siapa tahu nama Moeldoko mecuat setelah Itu?

Jasa Marga Percepat Waktu Penyelesaian Pekarjaan Rekonstruksi Tahap 1 Simpang Susun Cikunir

Propublik.id, Bekasi, Jabar – Untuk memberikan kenyamanan pengguna jalan khususnya di Jalan Tol Ruas Jakarta - Cikampek, Jasamarga Transjawa Tollroad Regional Division (JTT) percepat...