31.5 C
Jakarta
Minggu, Februari 28, 2021

Jaksa Kecolongan Masuknya Joko Tjandra, MAKI Desak Evaluasi Kinerja JAM

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

ProPublik.id.Jakarta-Kejaksaan RI dibawah kepemimpinan Jaksa Agung Burhanuddin dan Wakil Jaksa Agung Setia Untung Arimuladi memasuki usia ke-60 di Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) tahun 2020 ini.

Kinerja Kejaksaan dibawah Jaksa Agung Burhanuddin menjadi sorotan publik, meski banyak cibiran namun tak sedikit yang mengapresiasi, namun semua itu untuk mendukung Kejaksaan yang bersih, profesional, berintegritas.

Karennya pada peringatan HBA ke-60, tema diusung, sebagai langkah kebersamaan Korps Adhyaksa ditengah perjalanannya yakni ‘Terus Bergerak dan Berkarya’ sebagai tanda ketulusan dalam berkerja. Meski masih ada celah oleh oknum-oknum tertentu yang dinilai belum menerima sebuah perubahan yang lebih baik tersebut.

Bahkan, berbagai kinerja yang menjadi perhatian publik, belum tertangkapnya sang buronan BLBI, Joko S. Tjandra yang menurut pengakuan pihak Pengacaranya sempat hadir ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 8 Juni 2020 silam.

Bahkan, masuknya Joko Tjandra ke Indonesia membuat Jaksa Agung Burhanuddin sakit hati lantaran kecolongan, bahkan diakuinya ada kelemahan di jajaran intelijen, hal itu disampaikan dia, saat Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI pada Senin 29 Juni 2020 silam.

Menyikapi itu, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman pun berharap ada evaluasi kepada pimpinan di tingkat Jaksa Agung Muda (JAM). Dia pun dengan lantangnya menyebut Jam Intelijen perlu diganti, selain kekecewaan atas ketidak tahuan jajaran intelijen Kejaksaan atas masuknya buronan Joko Tjandra ke Indonesia.

“Setuju di evaluasi, jika perlu di ganti Jamintelnya karena tak bisa mengendus Buronan Joko Tjandra. Saya kecewa kenapa Kejaksaan bisa tidak tau sampai kebobolan atau kecolongan masuknya boronan Joko Tjandra itu,” ucap Boyamin kepada ProPublik.id, Jakarta, Jumat (24/7/2020).

Boyamin menilai belum ditangkapnya Joko Tjandra, ada kegagalan dari Jaksa Agung Muda Intelijen. Lantaran sebagai pimpinan tertinggi tim tabur, hanya bisa menangkap buronan kecil. Meski, Boyamin belum menemukan ada keterlibatan oknum jaksa ikut dalam pusaran ‘permainan’ Joko Tjandra tersebut.

“Ini ada apa, koq bisa kecolongan, Jamintel gagal mengendus buronan Joko Tjandra, masak yang kecil-kecil bisa, yang besar tidak bisa, ini kekagalan dia (Intel Kejaksaan). Karena memburu itu tanggungjawab dia,” cetus Boyamin.

Bahkan kata dia, kalau Jaksa Agung saja bisa merasa sakit hatinya di kelabui Joko Tjandra karena lemahnya intelijen di intansi itu, bagimana dengan rakyat kecil yang tengah mencari keadilan, sebabnya dia pun memghimbau sebaiknya jajaran Jaksa Agung Muda di evaluasi.

Terpisah, Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto menilai, Jaksa Agung mestinya segera mengevaluasi sistem intelejen di kejaksaan. Masyarakat perlu tahu, apakah kecolongan itu, lantaran sistem failure atau by design. Meski, sampai saat ini Jaksa Agung seperti tenang-tenang, padahal dia mengakui kalau intelejennya kecolongan.

“Mestinya Jaksa Agung memeriksa jajaran JAM Intel untuk bisa menisik dimana letak kelemahan sistem intelejennya dan mengumumkan hasilnyake publik. Jangan sampai masyarakat berpikir kalau top level kejaksaan ada yang bermain mata dengan Joker (Djoko S Tjandra),” tegas Eksponen 98 itu menambahkan kasus Joko Tjandra ibarat puncak Gunung Es, persoalan dalam program perburuan buronan yang berdampak kepada intansi Korps Adhyaksa tersebut.

Editor: Edward Panggabean

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Diciduk Polisi Lagi, Tes Urine Millen Cyrus Positif Benzo

Propublik.id, Jakarta -- Selebgram Millen Cyrus kembali harus berurusan dengan aparat Polda Metro Jaya setelah terciduk saat berada di Kafe Brotherhood, Jakarta Selatan, pada...

650 Pendidik dan Tenaga Pendidik Disuntik Vaksin COVID-19

Propublik.id, Jakarta -- Pemerintah memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi pendidik dan tenaga pendidik (PTK), yang ditandai dengan pelaksanaan vaksinasi massal bagi 650 orang PTK...