5.7 C
Munich
Senin, Maret 8, 2021

Masuki New Normal, Perkuat Ketahanan Pangan Menyongsong HUT 75 RI

Must read

Seluruh penjuru di belahan bumi ini dimana-mana ada orang cina. Seperti yang saya bilang sebelumnya 30% penduduk dunia orang Cina. Diujung mana pun ada mereka. Aku pernah ke Belgia. Kota Eropa nyari makanan yang cocok dengan selera tapi susah. Eropa di ujung kota itu ada Cina Town-nya kami ahirnya makan toge dan tahu ala Cina.

Dalam Alquran juga tertulis dengan jelas tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Tapi oleh orang-orang ‘tanda kutip’ apriori. Gus Dur saja  keturunan Cina tidak pernah protes.

Kenapa? Karena agamanya sama. Wali Songo kalau dibaca sejarahnya empat dari Wali Songo itu adalah orang Cina. Dan kalau kita lihat Istana Cirebon, semua yang ditempel tempel di dalam istana tersebut keramik Cina.

Bukannya kita bicara soal ras tapi maksudnya kita sekarang ini harus belajar kepada siapa? Kepada Arab, kepada Amerika, Inggris, negara Eropa lain atau kepada siapa. Atau kepada  kita Pancasila?

Sekali lagi, kita bicara bukan rasnya bukan apa. Kalau ada orang Arab  bisa membangun itu Spelter dalam tempo setahun atau setengah tahun atau 30 hari, silakan datangkan orang Arab. Ga ada!! Sedang tenaga kerja Cina masuk sembari bawa modal investasi.

Kalau ada orang Jawa bisa ngerjakannya, monggo kita kerjakan. Kita kan tidak bisa. Jadi sekarang kita bicara kata tidak bisa tadi kepada siapa kita harus belajar?

Rakyat kita, generasi muda dan anak-anak kita nanti kepada siapa harus belajar siapa yang harus ditiru. Bapak kita, kakek kita, leluhur kita atau siapa yang mau kita jadikan panutan. Kembali pada soal ini tadi soal Ketahanan itu.

Kalau tidak kita bangun mulai dari sekarang setelah 75 tahun merdeka kita mau jadi bangsa apa? Kita ingat kan statmen Soekarno, “Jangan Kita Jadi Bangsa Tempe”.

Soekarno pernah bilang itu kalau kita mau jadi bangsa tempe, ngutang saja terus. Dan yang terjadi sekarang, hutang kita semakin banyak banget. Hutang Indonesia per-Maret 2020 itu sebesar 5,192 Triliun dolar AS. Kalau kita  perbandingkan PDB kita masih 32%.

Jadi waktu Februari sebelum adanya covid-19 posisi hutang 4,948 Triliun dolar AS. Setelah covid-19 menjadi 5, 192 Triliun dolar AS.

Artinya, bertambahnya banyak banyak sekali. Sementara devisit APBN kita mencapai 104, 4 Triliun. Bayangkan, APBN saja devisit apalagi itu tadi, Ketahanan Negara, Ketahanan Bangsa dan Ketahanan Keluarga kita tidak punya. Pertanyaannya, saya hutang kepada siapa saya harus belajar? Untuk meningkatkan ini kita ribut UMKR.

Dulu ada ide Sandiaga Uno ‘Oce Ok’. Ini tidak jalan semua karena dananya tidak ada. Kalau dananya ada semua jalan. Idenya bagus tapi nafsu besar tenaga kurang. Jadi sekali lagi, kita ini sudah berpengalaman beberapa kali.

Bagaimana kita bisa utuh kembali memperkuat ketahanan keluarga, ketahanan bangsa dan ketahanan negara menjadi normal, ini butuh waktu panjang, bisa sampai tahun depan.

Jadi, pertanyaan dan PR besar buat kita yang saya bilang tadi. Tiap-tiap pemimpin itu berbagi tugas baru itu benar. Kalau tidak berbagi tugas ya seperti sekarang.

Kita bicara next generation setelah ulang tahun ke-75 ini mau ngapain. Kita menjadi susah untuk memulai sesuatu itu. Kita hutang anak-anak kita bagaimana?

Orang kalau mau maju harus berani loncat dari zona nyaman. Kalau orang tidak mau keluar dari zona nyaman tersebut tidak akan bisa maju. Kita sudah punya pengalaman dari orang susah jadi orang berada tidak semudah membalikan telapak tangan.

Sekali lagi ini PR untuk kita. Era New Normal pasca pandemi covid-19 ini mau dibawa kemana perjalanan generasi muda bangsa kita. Ini kita anggap seleksi alam juga. Yang meninggal kan 60% orang yang usia lanjut. Tapi kalau yang tua sudah ngerti yang muda ngapain?.

Masih bingung-bingung, masih plongo-plongo seperti dibilang Dedy Cobuzer apa kita mau melahirkan plongo-plongo. Apa yang mau dilakukan atau dikerjakan tidak tahu. Harusnya kan tahu. Beda dengan orang Eropa yang menjalani empat musim. Menghadapi musim dingin mereka kumpulin bahan makanan dan jaket pemanas. Mereka mempersiapkan diri.

Kalau saya mengidolakan Abraham Lincoln (Presiden ke-16 USA) yang mengatakan, bahwa kita harus  selalu mempersiapkan diri. Pada saat kesempatan datang kita sudah siap.

Ada orang bagaimana nanti, jadi kacau. Tapi ini statmen penting untuk kita ungkap bahwa seharusnya kita sudah lebih bisa berbagi tugas. Tugas Gubernur apa, tugas Walikota apa, tugas Bupati apa, tugas Camat apa dan tugas Lurah apa.

Ini masih ada orang orang miskin berkeliaran. Yang di Medan curi beras. Dikasi beras sama polisi dan suruh pulang. Mestinya kan begitu. Kita kadang-kadang suka terenyuh gitu. Kalau bisa kita bantu semua orang tapi kita kan punya keterbatasan juga. Mungkin kita bisa bantu satu orang, dua orang tiga orang. Kalau mengantri, engga bisa kita.

Harus ada titik pertahanannya. New Generation, New Normal menuju New Generation kita harus canangkan. Jangan seperti dibilang pak Jokowi dan SBY, tahun 2045 kita akan jadi negara maju. Tapi bagaimana caranya maju?.

Tidak dijelaskan. Bingung kita kan? Bagaimana kita mau jadi negara maju, hutang kita 5,1 Triliun dolar AS. Kalau negara hutang, bangsa kita hutang, keluarga kita hutang. Kita mau jadi bangsa apa? Kata Bung Karno bangsa tempe! Orang punya hutang tidak tenang hidupnya.

Gedebag-gedebuk jantungnya. Haruslah kita ini harus belajar untuk jangan terlalu serakah. Tugas-tugas itu harus. Bila perlu kita rekapitalisasi istilahnya.

Tugas fungsi  Presiden ini. RI-2 ini, Menteri ini. Menko ini masing masing dijabarkan. Sekarang, gara-gara covid-19, Menhub ke Bandara, Menteri BUMN, Gubernur ke Bandara. Menko PMK ke Bandara.

Wewenang siapa tidak jelas. Bagi-bagi sembako, Mensos turun, Presiden bagi-bagi di jalan. Jadi bingung kita ini dan kebanyakan akting semuanya. Jadi statmen pribadi ini sih.

Kita menghadapi New Normal pasca pandemi ini, bahwa kita sudah sadar bahwa kita perlu membangun Ketahanan Negara, Ketahanan Bangsa, Ketahanan Keluarga.

Satu kata penutup dari saya adalah jangan terlalu banyak akting. Bagaimana kita buat perencanaan yang baik, bagaimana kita buat persediaan untuk keluarga, bangsa dan negara ini cukup. Maksudnya sekarang bagi tugas yang betullah. Sekarang mau bagi-bagi bantuan sosial istana tunggu dulu cetak tas bertuliskan istana.

Orang keburu mati dong!! Pencitraan tidak penting. Kalau mau kita bantu sebangsa senegara setanah air ya bantu. Kalau kita bicarakan semua orang susah yang terancam nyawa karena kelaparan ya penuh penjara. Dan negara juga yang rugi.

Kita harus bedakan motif-motif mainstain. Kita kan orang-orang hukum kita harus bedakan mana mencuri dan mana yang lagi kesusahan. Banyak orang yang seperti begitu di Indonesia. Yang tidak punya apa-apa keadaan begini tambah tidak punya apa-apa.

Kalau kita melihat peristiwa sosial ini kan menjadi pengalaman buat kita. Ada yang susah tapi ada yang lebih susah lagi. Kalau ada yang susah kita bilang bodo bukan urusan gue, kita semakin masa bodoh. Tapi kita harus bisa munculkan ini.

Coba dibikin untuk jadi orang sukses itu apa sih promosinya. Coba kita praktekkan 10 orang setiap hari atau 100 orang manusia pilihan digembleng. Ini kita tidak ada. Anak yang lahir di Indonesia seperti ayam kehilangan induk. Hidup kau sendiri syukur. Syukur kalau kau hidup panjang. Kalau tidak kau mati di tengah jalan.

Beda dengan orang di Amerika. Setiap lahir di tanah Amerika warga negara Amerika. Di Belanda ada saudara jauh tinggal di sana. Dia kawin dengan orang Belanda, anaknya lahir blasteran. Dia cuma jadi loper koran tapi dikasi jatah oleh negara sekian.

Tapi kalau nanti  kamu pendapatannya lebih dari penjual koran jatah ini berkurang. Dicukupi oleh negara. Sama seperti di Brunai. KTP Brunai ada cip-nya. Mau sekolah, berobat, mau pinjam uang ke bank dikasi dengan modal KTP. Semua dicukupi oleh pemerintahnya. Ada yang jadi teroris? Ada yang mau jadi penjahat? Engga ada.

Kenapa begini karena dia menerapkan sistem hukum Islam dan hukum Inggris. Kau mau mencuri boleh dengan potong tangan satu. Merampok boleh, potong kaki. Ada tidak yang jadi pencuri di Brunai? Tidak ada karena dicukupi.

Di kita dicukupi apanya? BLT saja cuma Rp 600.000 itupun dipotong potong. Rp 600.000 itu untuk berapa lama? Sebulan atau tiga bulan. Kalau Rp 600.000 untuk 3 bulan ya matilah. Sehari saja  lebih dari Rp 6.000. Itulah contohnya.

Penulis adalah praktisi hukum/advokat

More articles

Latest article