1.5 C
Munich
Senin, Maret 8, 2021

Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Jaksa Tuntut Reza Seumur Hidup

Must read

ProPublik.id, Sumatera Utara– Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Medan, menuntut tiga terdakwa dengan hukuman pidana masing-masing seumur hidup, dalam perkara dugaan pembunuhan hakim Jamaluddin yang beragenda mendengarkan pembelaan para terdakwa oleh para penasihat hukum di Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara, Rabu, 17 Juni 2020.

Jaksa Parada Situmorang saat membacakan tuntutannya menilai ketiganya telah melakukan pembunuhan berencana berdasarkan keterangan para saksi di persidangan dan juga barang bukti. Perbuatan para terdakwa dianggap keji dan meninggalkan kepedihan yang mendalam kepada keluarga korban,  dan perbuatan ketiga terdakwa dianggap telah melanggar Pasal 340 KUHPidana juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana subsider Pasal 338 KUHPidana juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

“Tidak ada alasan untuk memaafkan perbuatan para terdakwa dan tidak ada perdamaian yang dilakukan para terdakwa kepada keluarga korban sehingga tidak ada hal yang meringankan dari perbuatan para terdakwa,” kata jaksa Parada Situmorang saat membacakan tuntutaanya di hadapan majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik, pekan lalu.

Sementara itu, Penasihat hukum terdakwa M Reza Fahlevi, Dedy Alamsyah mengatakan, pihaknya tidak terima atas tuntutan jaksa yang disebut kliennya ikut melakukan pembunuhan berencana seperti Pasal 340 KUHPidana juncto Pasal 55 ayat 1, yang dalam dakwaan Primer, alasannya, kliennya terlibat dalam perkara ini berdasarkan ajakan dan bujuk rayu dari Jefri Pratama Alias Jepri dan ini terbukti didalam persidangan.

“Di persidangan kemarin, Reza mengatakan menghargai Jefri sebagai abang kandungnya dan Jefri mengaku mengajak Reza karena lebih percaya dengan adiknya sendiri. Jadi tumbalin lo dia. Tuntutan jaksa ini tidak tepat karena keikut-sertaan Reza tidak serta-merta, kalau ikut serta itu sudah ada rencana matang,” kata Sugeng sapaan akrap Dedy Alamsyah kepada propublik.id via WhatApp , Jum’at (18/6/2020).

Dan memang benar Reza memang ikut serta, harusnya dari awal perencanaan pembunuhan sudah terlibat. Jefri berkali-kali menghubungi Reza dalam beberapa bulan, setelah dia dan Zuraida sepakat akan membunuh korban. Semua ini akan dimasukkan dalam pembelaan, harapannya menjadi pertimbangan majelis hakim untuk meringankan hukuman Reza. Kata Dedy

Dedy menambahkan, dalam tuntutan JPU menerapkan pasal 340 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan 2, dan pada Pledoi kami membantah serta merasa keberatan dengan tuntutan JPU tersebut,  Sebab terdakwa M.Reza Fahlevi seharusnya dikenakan pada 340 KUHPidana Jo Pasal 56 ayat 1e dan 2e atau Pasal 57, yang mana pada  Pasal 57 berbunyi :

Ayat 1, Maksimum hukuman pihak yang diancam atas kejahatan, dikurangi sepertiga bagi si pembantu.

Ayat 2, Jika kejahatan itu dihukum dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup, maka dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun.

Ayat 3, Hukuman tambahan untuk kejahatan dan membantu melakukan kejahatan itu, sama saja.

Ayat 4, Untuk menentukan hukuman hanya diperhatikan perbuatan dengan sengaja dimudahkan atau dibantu oleh pembantu itu serta akibatnya.

“Nah, sekarang seharusnya JPU itu berpedoman pada Jo pasal 56 dan 57 KUHPidana bukan pada Jo Pasal 55 KUHPidana, kata Dedy seraya menambahkan, seharusnya kontruksi hukum inilah yang harus dibangun oleh JPU yakni Pasal 56 dan Pasal 57 KUHPidana, Kenapa…?,” tanyanya heran.

Mengacu pada pasal tersebut yakni “Membantu” bukan turut serta, penilaiannya terdakwa M Reza Fahlevi dalam hal melakukan pembunuhan berencana terhadap korban Hakim PN Medan Jamaluddin diminta untuk ikut membantu melakukan pembunuhan berencana,” ujar Dedy.

Maka dari itu, kata dia tuntutan JPU tersebut terbantahkan dan sangat keberatan menerapkan pada Jo Pasal 55 KUHPidana, kesimpulannya adalah bila terdakwa dalam tuntutan JPU hukuman seumur  hidup maka pihaknya harus mengacu kepada pasal 57 ayat ke 1 dan Ke 2 yakni jika kejahatan itu dapat dihukum dengan hukuman mati atau seumur hidup.

“Maka hukuman bagi Terdakwa M Reza Fahlevi adalah 15 Tahun dikarenakan dikurangi sepertiga dari hukuman mati atau seumur hidup,” terang Dedy.

“Nah bila JPU tetap juga bersikeras untuk menetapkan Jo Pasal 55 KUHPidana terhadap Terdakwa M Reza Fahlevi akan menjadi Preseden buruk bagi peradilan kita di Indonesia,” sambung Dedy.

Menyoal tidak ada upaya damai yang dilakukan kepada keluarga korban, Dedy membantahnya. Menurutnya, permintaan maaf sudah pernah dilakukan namun tidak sampai seluruhnya kepada keluarga korban sehingga dianggap tidak ada.

“Namun, kesaksian ibu Reza di persidangan ada menyatakan damai dan maaf kepada pihak keluarga korban. Harusnya juga menjadi hal yang meringankan tuntutan jaksa adalah kesaksian ibu Reza tentang anaknya yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan sedari kecil.

“Perjalanan hidupnya buka tipe manusia jahat, makanya dipledoi ini, tuntutan jaksa kita bantah semua,” pungkas Dedy.

Sidang dengan terdakwa Zuraida Hanum yang tak lain istri dari Jamaluddin, Jefri Pratama Alias Jepri dan M Reza Fahlevi akan dilanjutkan kembali pekan depan dengan agenda pembacaan putusan (Vonis), dari Majelis hakim Pengadilan Negeri medan.

Editor: Edward Panggabean

 

More articles

Latest article