35 C
Jakarta
Selasa, November 24, 2020

Pemilik Namasindo Plas Berbagi Kisah dan Tantangan Berbisnis Daur Ulang Botol Plastik

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

Propublik.id, Jakarta. Yanto Widodo, 48, Presiden Direktur dan pemilik PT Namasindo Plas, memulai bisnis daur ulang botol air minum dalam kemasan (AMDK) di tahun 2007.

Sebelumnya, keluarga pengusaha kelahiran Bandung tersebut sudah memiliki pabrik yang sudah beroperasi sejak tahun 1984 yang memproduksi tutup botol atau screw cap dan tutup botol air galon (gallon cap).

“Dulu saya tidak berfikir bisa jadi seperti ini. Saya fikir untuk bahan preform, kalau pakai produk daur ulang (recycled) bisa lebih murah.

Tapi ternyata tidak juga, sampah itu lebih mahal,” ujar Yanto, sambil tertawa ringan. Preform adalah bahan setengah jadi untuk botol plastik dan galon jenis polyethylene terephthalate (PET).

“Di masa awal, saya beli botol yang diisi air atau batu sama pemulung supaya berat timbanganya,” kata pemilik pabrik pengolahan daur ulang plastik botol kemasan plastik yang bermarkas di Bandung ini. Tidak sedikit investasi yang dikeluarkan karena untuk mempersenjatai mesin daur ulang botol plastik kemasan (recycled PET) kelas dunia, dibutuhkan investasi hingga ratusan miliar rupiah.

Saat ini, Namasindo mendaur ulang 1.200 ton botol plastik tiap bulannya untuk diolah menjadi preform yang siap dicetak menjadi botol plastik siap pakai sebanyak 100 juta botol.

Perusahaan multinasional dalam bidang makanan dan minuman asal Prancis, Grup Danone merupakan klien utama Namasindo, terutama untuk produk air minum Aqua.

Namasindo merupakan produsen tunggal botol AMDK yang menggunakan bahan recycled PET di Asia Tenggara. Cash Setiap Hari Memang unik bisnis daur ulang botol kemasan plastik, karena selain harus berinvestasi di mesin pabrik, Namasindo harus memastikan tersedianya sampah botol plastik dalam volume dalam jumlah yang cukup untuk didaur ulang.

Yanto mengatakan, mata rantai produksi Namasindo didukung oleh jaringan pemulung yang berjumlah hingga 20,000 orang. Mereka tersebar di Bali, Lombok, Bekasi, Tangerang Selatan dan Bandung.

“Ini pemulung kecil yang tiap hari berkontribusi sampai 5-6 kilogram sampah botol plastik untuk kita. Pemulung ini. Mereka memperoleh pendapatan sekitar Rp 25,000 per hari. Sekilonya sekitar Rp 4.000-Rp 5.000,” ujarnya.

Yanto menjelaskan Namasindo harus memastikan memberi dana cash melalui jaringan pengepul besar sehingga pemulung bisa pendapatan rutin setiap hari dari sampah plastik yang dikumpulkannya.

“Itu harus keluar cash terus setiap hari. Tidak ada yang namanya utang. Masalahnya kalau kita tidak ambil 1 atau 2 hari saja, pengepul bisa setor ke tempat yang lain, termasuk pabrik tekstil yang memerlukan bahan recycled PET. “Lalu kalau harga minyak bumi turun, harga virgin material (pelet plastik terbuat dari minyak bumi) kan lebih murah. Dapatnya pun mudah, banyak produsen dari Cina, kita sebenarnya rugi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembuatan botol plastik sejatinya bisa menggunakan virgin material, selain dari bahan daur ulang. Minim Regulasi Pendukung Yanto mencontohkan dinegara maju seperti Australia, Amerika atau di kawasan Eropa, pemerintah turun tangan untuk memastikan produsen menggunakan lebih banyak bahan plastik daur ulang. Australia misalnya, telah merilis beberapa peraturan yang mewajibkan penggunaan kemasan daur ulang. Bahkan, tahun 2025 negeri Kanguru ini menargetkan untuk mewajibkan produsen untuk menggunakan 100 persen kemasan yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali.

“Harus ada regulasi tentang pengelolaan sampah untuk mengurangi limbah plastik. Kita tidak punya satupun peraturan yang mewajibkan penggunaan kemasan daur ulang. Peraturan semacam ini dibuat bukan untuk penghematan. Memang sejatinya barang recycled itu lebih mahal, itulah image yang harusnya dibangun dan itulah konsep sejati dari go-green,” kata pemilik perusahaan yang mengoperasikan 10 hektar kawasan pabrik di Bandung, Jawa Barat.

Yanto menjelaskan saat ini Namasindo merupakan satu-satunya perusahaan produsen botol kemasan plastik berbahan baku recycled PET.

“Investasinya mahal, untuk 1 line mesin investasinya bisa mencapai Rp 150 miliar, ketika kita bangun pabriknya banyak yang bertanya apakah kita bisa mendapatkan sampahnya? Ada yang tanya, kalau punya uang Rp 100 miliar kenapa harus mengurusi pemulung atau tukang sampah?,” ujarnya.

Lalu khusus untuk industri AMDK, ada banyak hal yang penting diperhatikan, diantaranya karena produknya masuk dalam kategori food grade, atau standar konsumsi, maka botol yang bisa didaur ulang harus dipastikan bebas bahan berbahaya. “Cara memilah, mencuci, dan mendaur ulangnya pun berbeda.

Ada manajemen khusus untuk hal ini. Tapi terlepas dari hal itu semua, yang mahal dalam bisnis ini bukanlah persoalan membeli mesinnya, tapi bagaimana kita bisa membangun network untuk mendapatkan sampahnya,” kata Yanto.

“Di bisnis sampah ini, tidak banyak orang yang mau, seharusnya kita juga dibantu keringanan membayar pajak pendapatan dan penghasilan (PPN),” ujarnya, seraya menambahkan seandainya perusahaan seperti miliknya diberi insentif, sejatinya mereka bisa mendistribusikan lebih banyak kegiatan CSR untuk edukasi, maupun mengangkat kesejahteraan pemulung.

Namasindo, kata Yanto, selama ini telah melakukan banyak edukasi ke berbagai sekolah, mulai dari mengajak pengelola sekolah mulai dari SMP dan SMA melakukan kunjungan ke pabriknya, sampai datang kekomunitas RT dan RW, untuk mengedukasi masyarakat tentang bijak membuang sampah plastik. Hal ini termasuk bahaya sampah plastik untuk lingkungan jika tidak didaur ulang.

“Akan tetapi kalau peran ini hanya dipikul oleh pihak swasta, sangat berat rasanya,” ujar pengusaha ini. Kampanye Go-Green Harus Tepat Sasaran Pemilik Namasindo ini juga menyoroti kampanye anti plastik yang banyak digencarkan oleh pemerintah yang menurutnya sering salah dipahami masyarakat.

“Edukasi go-green harus tepat sasaran. Seharusnya pemerintah, mulai dari pusat sampai daerah gencar sampaikan edukasi bijak mengelola sampah. Misalnya, jangan buang sampah sembarangan, lalu seperti di negara maju, kan sampah itu ada klasifikasinya,” kata Yanto. Ia merujuk pada penerapan tiga tipe sampah yang diterapkan di banyak negara maju, yakni sampah organik, sampah organik (sampah yang mengalami dekomposisi atau pelapukan), sampah unorganik (sampah untuk didaur ulang) dan sampah B3 (atau limbah berbahaya bagi kesehatan). “Sayangnya, dinegara kita, kadang cari tempat sampah pun susah,” ujar Yanto.

Ia pun menyayangkan banyak pejabat negara salah kaprah dengan melarang penggunaan plastik didaerah yang meraka pimpin. “Sebenarnya kan bukan dilarang menggunakan plastik, tapi bijak menangani sampahnya. Harus lebih banyak edukasi yang bisa menjelaskan, misalnya botol plastik bisa didaur ulang jadi botol lagi,” ujarnya.

Menurut pengamatan pengusaha daur ulang botol plastik ini, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi, bisnis air minum dalam kemasan tumbuh di kisaran 10-15 persen setiap tahunnya. Mengutip data dari industri yang digelutinya, Yanto menambahkan Indonesia memproduksi sekitar 1,3 miliar botol PET per bulannya.

Dari jumlah tersebut hanya 300 juta botol terdaur ulang dalam skala nasional. “Artinya sisanya kemana? Lalu dengan pertumbuhan seperti itu, bukankah terbayang akan makin banyak sampah plastik di negara kita.

Konsepnya kan seharusnya bagaimana mengelola sampah yang ada di negeri kita. Saya berharap pemerintah kita bisa membuat aturan yang lebih tegas untuk para produsen terkait kewajiban daur ulang. Kalau ada regulasinya itu posisi kita di hargai,” tutupnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Realisasi Penerimaan Pajak Hingga Oktober Rp 991 triliun

  Propublik.id, Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam paparan terkait kondisi APBN Oktober 2020 menjelaskan, realisasi penerimaan pajak hingga akhir Oktober 2020 mencapai Rp 991 triliun. "Ini...

Adaptasi Baru Jadi Peluang untuk IKM Kosmetik

Propublik.id, Jakarta-Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menilai pandemi Covid-19 dan adaptasi kebiasaan baru membawa perubahan pola hidup...