-2.8 C
Munich
Sabtu, Maret 6, 2021

Peneliti Bilang Bra Ketat Berisiko Kanker Payudara Loh

Must read

ProPublik.id, Amerika Serikat-Kebanyakan perempuan senang mengenakan bra (breast holder/BH) yang ketat. Bra ketat ini bisa membuat tampilan payudara lebih menonjol dan berisi. Padahal, bra ketat membuat wanita berisiko kanker payudara.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Universitas Harvard, menemukan mengenakan bra yang sangat ketat dapat membatasi sirkulasi darah dan juga dapat merusak jaringan getah bening.

Menurut penelitian, bra ketat membuat berkurangnya oksigen dan nutrisi yang dikirim ke sel-sel. Ini terjadi terutama pada wanita yang memakai bra selama lebih dari 12 jam sehari dan bahkan tidur juga mengenakan bra.

Tak hanya soal bra, studi ini juga menemukan perempuan kelas menengah berada pada risiko lebih tinggi kanker payudara karena mereka bekerja selama berjam-jam.

Pembuluh limfatik sangat tipis, mereka sangat sensitif terhadap tekanan dan mudah dikompresi.

“Alasan utama mengapa bra yang sangat ketat buruk bagi kesehatan payudara adalah karena mereka membatasi aliran getah bening di payudara Anda. Biasanya cairan getah bening yang membuang limbah dan racun lain dari payudara, tetapi bra menghambat tindakan ini, sehingga racun mulai menumpuk di payudara, dan dapat mengembangkan kanker,” begitu isi penelitian seperti dilansir timeofindia.

Ginekolog Dr Smiti Kamath yang tak ikut penelitian juga mengingatkan wanita yang suka mengenakan bra kawat saat tidur. Bra tersebut bisa mencegah aliran normal limfatik dan kemungkinan anoksia (kada oksigen lebih rendah dari normal), yang telah berhubungan dengan fibrosis, yang pada gilirannya berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.

Onkologi Dr MV Shah mengatakan wanita yang memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga mereka harus ekstra hati-hati. Bra menghambat tubuh kita dalam membersihkan diri dan menyingkirkan sel-sel kanker dan racun seperti dioksin, benzena dan bahan kimia karsinogenik lain yang melekat pada jaringan lemak tubuh seperti payudara.

Editor: Tim Redaksi

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article