-2.8 C
Munich
Sabtu, Maret 6, 2021

Pengamat Nilai Gedung Kejagung Terbakar Lemahnya Pengamanan Intelijen

Must read

ProPublik.id, Jakarta-Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta menilai kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung yang terjadi menjadi ancaman serius bagi Kejaksaan, bisa saja ancaman karena ada pihak yang terganggu dengan Kejaksaan, bisa juga ancaman karena infrastruktur yang kurang baik sehingga berakibat fatal. Karena itu perlu evaluasi kinerja Jaksa Agung Muda Intelijen agar sistem pegamanan Kejaksaan lebih baik.

“Iya, ketika sistem sudah baik tapi masih terjadi gangguan maka harus dievaluasi Jamintelnya,” ujar Stanislaus kepada Propublik.id, Jakarta, Senin (24/8/2020).

Dia menilai seyogyanya ketika hari libur panjang sebelum inseden terjadi, jajaran intelijen perlu memetakan kerawanan di internal Kejagung, sehingga tidak terjadi gangguan ataupun ancaman tersebut.

“Sehingga potensi ancaman yang ada saat ini tidak terjadi lagi gangguan-gangguan seperti yang sudah terjadi,” ungkapnya.

Tumpukan buku, dampak kebakaran gedung Kejagung. Foto: Propublik.id

 

Apalagi yang jadi masalah kata dia, adalah penyimpanan barang bukti. Sebut saja misalnya barang bukti berupa surat-surat penting lainnya seperti halnya izin clearance para pegawai yang hendak bepergian keluar negeri atau barang bukti lainnya yang terindikasi dalam kasus-kasus besar yang tengah menjadi sorotan publik.

“Evaluasi terhadap sistem pengamanan perlu dilakukan, selain personal pejabatnya, yang jadi masalah adalah penyimpanan barang bukti (surat-surat penting),” ungkap Stanislaus.

Sekedar mengingatkan Jamintel saat ini adalah Sunarta, yang baru dilantik oleh Jaksa Agung Burhanuddin pada Rabu, 12 Agustus 2020 berdasarkan surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 134/TPA Tahun 2020 tanggal 30 Juli 2020.

 

Stanislaus yang juga pendiri Pusat Studi Politik dan Kebijakan Strategis Indonesia (Polkasi) itu menambahkan terkait sistem pencegahan kebakaran, apapun gedungnya, apakah itu cagar budaya atau gedung baru tetap harus memenuhi aturan agar ada sistem perlindungan dan pencegahan dari kebakaran.

“Sistem yang bagus jika sumber ancaman kuat juga bisa kalah, namun yang perlu diperhatikan adalah sistem pencegahan termasuk dari ancaman kebakaran yang disengaja atau karena kelalaian,” ujarnya.

Gedung Utama Kejaksaan Agung yang ikut terbakar. Foto: ProPublik.id

Untuk diketahui Gedung Utama Kejagung masuk kawasan cagar budaya, sejak mulai dibangun pada tahun 1961 silam. Setidaknya lembaga ini telah dijabat oleh 24 Jaksa Agung yang dipilih silih berganti oleh Presiden. Burhanuddin sendiri merupakan Jaksa Agung ke 25 yang dilantik pada 23 Oktober 2019 lalu.

Kedepan kata Stanislaus perlu memperkuat sistem pengamanan di Kejagung, mengingat masih lemahnya intelijen Kejaksaan dalam menjaga internalnya, sebab itu dia menyarankan perlu kolaborasi dengan jajaran intelijen pada lembaga atau intansi lainnya.

“Iya, saya kira harus diperkuat terutama dengan membangun kolaborasi dengan organisasi intelijen lainnya, ini harus dikuatkan. Sebab, ancaman negara harus dideteksi dini, cegah dini, jadi perlu kolaborasi antar lembaga dalam bidang Intelijen,” imbuhnya.

Gedung utama Kejaksaan Agung habis dilalap si jago merah pada Sabtu, 22 Agustus 2020, empat ruangan pimpinan ludes dilalap si jago merah, yakni ruang Jaksa Agung, Wakil Jaksa Agung, Ruang Jaksa Agung Muda Intelijen, Jaksa Agung Muda Pembinaan, berikut juga seluruh ruangan kerja jajaran dibawahnya di gedung yang berlantai 6 itu.

Editor: Edward Panggabean

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article