Pengusaha kuliner Christopher Sebastian saat menjadi narasumber dalam dialog yang digelar di BNPB, Jakarta, Selasa (6/10/2020). Foto: BNPB
Pengusaha kuliner Christopher Sebastian saat menjadi narasumber dalam dialog yang digelar di BNPB, Jakarta, Selasa (6/10/2020). Foto: BNPB

Pengusaha Minta PSBB DKI Tidak Diperpanjang

 

Propublik.id, Jakarta-Pengusaha sektor kuliner di DKI Jakarta berharap penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak diperpanjang. Kebijakan ini dipandang tidak efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19 di Jakarta yang masih terhitung tinggi.

Christopher Sebastian, pengusaha kuliner, mengatakan penyebab tingginya penyebaran Covid-19 adalah masalah kedisiplinan masyarakat. Namun, dibutuhkan pula ketegasan dalam sanksi dan pengawasan dari pihak pemerintah, terutama saat penerapan PSBB.

“Jika tidak, mungkin dalam satu-dua tahun ke depan kita masih ada dalam kondisi seperti ini,” kata Christoper dalam diskusi di BNPB, Jakarta, Selasa (6/10/2020).

Dia mengungkapkan, kebijakan ini berdampak pada sektor ekonomi, baik pelaku usaha maupun pekerja atau karyawan. Dia mengawatirkan jika kebijakan yang tidak efektif ini tetap berlangsung maka jumlah korban karena dampak ekonomi akan jauh lebih besar dibandingkan jumlah korban yang terpapar Covid-19.

Alasan lain tidak efektifnya PSBB di DKI Jakarta adalah tidak adanya dukungan daerah-daerah sekitar atau kawasan penyangga di luar Jakarta. Dia mencontohkan salah satu kawasan pemukiman di perbatasan Jakarta-Tangerang. Batas wilayah dan penerapan PSBB hanya dipisahkan jalur jalan. Kondisi ini mengakibatkan keramaian tetap berlangsung di sisi jalan wilayah Tangerang. Sementara itu, warga DKI pun bebas beraktivitas di kawasan yang masuk daerah yang tidak menerapkan PSBB tersebut. Akibatnya, sulit untuk memastikan pengendalian covid berlangsung dengan efektif.

Untuk mengatasi tekanan pada usahanya selama masa PSBB, pemilik brand kuliner Ayam Bebek Angsa Masak di Kuali ini menyatakan telah melakukan berbagai strategi. Salah satu satu cara utama adalah memaksimalkan penjualan online. Untuk itu perusahaannya bekerja sama dengan sejumlah food vlogger dan influencer untuk kepentingan promosi tiga brand kuliner usahanya.

Baca Juga :  PSBB DKI Berlaku, Ini Ketentuan untuk Penumpang Pesawat

Selain itu, pihaknya juga melakukan diversifikasi ke produk-produk makanan beku (frozen food) dengan menilik pada tren market segmen kuliner.

“Tapi itupun belum bisa menutup biaya operasional,” kata Christoper.

Senada dengan Christopher, pengusaha kuliner lain, yaitu Donny Pramono meminta pemerintah DKI mengkaji ulang penerapan PSBB. Menurut dia, perlu ditemukan cara yang lebih efektif dibandingkan PSBB dalam upaya membatasi aktivitas masyarakat.

“Mungkin kita bisa meng-explore cara-cara lain untuk menekan kurva (penyebaran covid),” tambah Donny.

Dia menegaskan pentingnya pemerintah memberikan sanksi tegas yang menimbulkan efek jera. Donny mencontohkan apa yang dilakukan di perusahaannya Sour Sally Group (SSG). Perusahaan membagikan masker gratis yang wajib dipakai karyawan. Pelanggaran atas aturan ini akan dikenakan denda.

SSG juga mengeluarkan aturan bahwa karyawan yang masuk hanya mereka yang menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan karyawan yang menggunakan kendaraan umum bekerja dari rumah (Work from home).

Rapat dan pelatihan karyawan dilakukan secara daring. Selain itu, berbagai protokol kesehatan ketat diterapkan di perusahaan bagi karyawan yang masuk maupun di outlet-outlet mereka.

Akibat penerapan PSBB, SSG hanya mengoperasikan sekitar 100 dari 250 outlet yang dimiliki. Pengoperasian sebagian keci outlet tersebut dimaksud untuk menutup biaya gaji karyawan.

Editor: Edward Panggabean

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Apa komentarmu?