27.3 C
Jakarta
Rabu, Januari 27, 2021

Realisasi Penerimaan Pajak Hingga Oktober Rp 991 triliun

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

 

Propublik.id, Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam paparan terkait kondisi APBN Oktober 2020 menjelaskan, realisasi penerimaan pajak hingga akhir Oktober 2020 mencapai Rp 991 triliun.

“Ini artinya penerimaan pajak kita 15,6 persen lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” ungkap Sri Mulyani dalam paparan virtual “APBN Kita” Senin (23/11/2020).

Dia mengungkapkan, tekanan dari sisi penerimaan pajak terjadi lantaran Pemerintah harus memberikan banyak insentif ke semua sektor penerimaan pajak sehubungan dengan terjadinya pandemi Covid-19. Insentif diberikan baik untuk pajak karyawan, Pajak Penghasilan (PPh) maupun Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Jika ditinjau dari sisi penerimaan pajak neto Januari-Oktober 2020, realisasi tertinggi bersumber pada PBB & Pajak lainnya yang mencapai 78,09%. Sementara itu, penerimaan dari PPh Non Migas maupun PPh Migas masih tergolong rendah, masing-masing 51,65% dan 45,92%. Jika dibandingkan tahun lalu, kontraksi yang terjadi pada penerimaan PPh Migas sebesar 46,46%.

“PPh Migas kita mengalami kontraksi yang jauh lebih dalam karena harga migas turun, volume lifting migas juga turun,” papar Sri Mulyani.

Salah satu kontributor positif datang dari penerimaan bea cukai yang masih tumbuh 5,5%. Hal ini didukung terutama oleh cukai hasil tembakau yang masih mengalami pertumbuhan hingga 10 persen.

Realisasi sampai akhir Oktober Rp 991 triliun atau 70,6 persen dari target. Ini artinya penerimaan pajak kita 15,6 persen lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Mengalami tekanan
karena adanya insentif pajak yang diberikan kepada seluruh sektor perekonomian, baik itu pajak untuk karyawan PPh maupun PPN

Meskipun hingga saat ini realisasi penerimaan pajak masih cukup rendah, Sri Mulyani menyatakan pihaknya akan mencoba merealisasikan target penerimaan pajak sesuai Perpres 72/2000.

Pertumbuhan neto, menurut dia, memang masih tertekan akibat tingginya restitusi. Restitusi PPN sudah dipercepat dan mengalami peningkatan sebesar 30,82% dan 32,77% pada bulan September dan Oktober.

Editor: Dwi Christianto

Berita Terkait

Tinggalkan pesan anda

Ketik komentar anda
Masukan nama anda

Berita Terkini

Mengharukan…Wakapolres Subang Bangun Rumah Tidak Layak Huni Milik Kopka Hamim

Subang – Kopka Hamim Mulyono salah satu Anggota Koramil Purwadadi yang baik dalam penugasan, namun disatu sisi kehidupan pribadinya cukup memprihatinkan, dimana yang bersangkutan...

Kades Tanjung Siang Subang Dukung Komjen Listyo Jadi Kapolri

SUBANG //- Pencalonan Kepala Bareskrim (Kabareskrim Polri) Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Kabupaten Subang. Masyarakat Kabupaten Subang...