26.2 C
Jakarta
Selasa, Maret 2, 2021

Seberapa Besar Dampak Kampanye Boikot Iklan ke Pendapatan Facebook?

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

Propublik.id, AS-Dalam pernyataan internal kepada staf perusahaan yang dibocorkan theinformation.com, CEO Facebook Mark Zuckerberg menegaskan tidak akan tunduk pada gerakan untuk memboikot pemasangan iklan di platform media sosial perusahaannya. Zuckerberg menyatakan, penarikan iklan yang terjadi hanya memangkas persentase kecil dari total pendapatan Facebook. Apakah benar demikian?

Wall Street Journal (WSJ) memberikan gambaran rinci tentang dampak kampanye boikot iklan terhadap Facebook. Dalam data grafis WSJ diperlihatkan bahwa total pendapatan Facebook dari iklan pada 2019 mencapai US$ 69,7 miliar atau mendekati Rp 1.000 triliun. Sementara itu, pendapatan iklan dari kawasan Amerika Serikat (AS) dan Kanada pada tahun yang sama mencapai US$ 34 miliar atau mendekati Rp 500 triliun.

Delapan pemasang iklan utama yang terlibat dalam kampanye boikot tersebut memberikan pendapatan sebesar US$ 57 juta pada bulan Mei 2020. Posisi pertama ditempati oleh Microsoft dengan belanja iklan mencapai US$ 10,4 juta, diikuti oleh Starbucks dengan US$ 8,1 juta.

Nilai pendapatan iklan US$ 57 juta hanya merupakan 10 persen dari angka yang dicatat 100 pengiklan Amerika Serikat di Facebook pada bulan Mei. Angka tersebut semakin terlihat kecil dibandingkan nilai pendapatan Facebook dari wilayah AS & Kanada yang berkisar US$ 34 miliar.

Karena itu, WSJ menyimpulkan bahwa aksi boikot yang melibatkan perusahaan-perusahaan raksasa itu hanya menarik sebagai sajian utama (headline) berita media. Tapi, dampak pada pendapatan perusahaan Facebook dari iklan masih terhitung kecil.

Mengapa bisa demikian? Bukankah deretan brand yang menarik iklannya dari Facebo

ok adalah kumpulan nama besar, seperti Microsoft, Starbucks, Adidas, Unilever, Coca-Cola, Adidas & Reebok, Volkswagen AS, Honda AS, Ford, Verizon hingga HVS Health?

WSJ memaparkan data bahwa porsi terbesar pendapatan Facebook justru datang dari perusahaan-perusahaan berskala kecil dan menengah. Persentase pendapatan iklan dari segmen ini mencapai 76% dari total pendapatan perusahaan. Iklan dari perusahaan raksasa hanya mencapai 24% dari total US$ 69,7 miliar.

Maka, apa yang disampaikan Mark Zuckerberg bukan isapan jempol belaka. Karena itu, pendiri Facebook ini meyakini kalau para pengiklan yang melakukan aksi boikot akan segera kembali dalam waktu dekat.

 

BACA JUGA: Gerakan Boikot Iklan di Facebook Semakin Massif

 

Diberitakan sebelumnya, kampanye bertagar Stop Hate for Profit diinisiasi oleh Anti-Defamation League dan beberapa kelompok gerakan pembela HAM yang dimulai sejak 17 Juni 2020 lalu. Melalui aksi ini mereka mendorong perusahaan-perusahaan pengiklan di Facebook dan Instagram untuk menghentikan pamasangan iklan selama bulan Juli 2020 di raksasa media sosial tersebut. Menurut mereka perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia itu tetap mengabaikan imbauan untuk memfilter ujaran kebencian, fitnah dan konten-konten berisi hasutan dan kekerasan serta konten-konten hoaks yang bertebaran di platform tersebut.

“Apa yang mereka lakukan dengan pendapatan sebesar US$ 70 miliar dan laba sebesar $17 miliar (2019)?” tulis para inisiator dalam surat terbuka kepada Facebook.

Dalam laman stophateforprofit.org disebutkan bahwa 99% dari pendapatan Facebook pada 2019 yang mencapai US$70 miliar (sekira Rp 1.000 triliun) berasal dari iklan. Namun, dengan pendapatan yang demikian besar, Facebook seakan tak mampu mengambil langkah dan menutup mata terhadap berbagai ujaran kebencian, fitnahan, dan kekerasan yang disampaikan melalui saluran media sosial tersebut.

Hingga akhir Juni, jumlah perusahaan yang bergabung dalam gerakan ini telah mencapai 160-an. NBCnews bahkan memperkirakan sekitar 530 perusahaan akan bergabung dalam gerakan ini.

Kampanye ini sempat menggoyahkan harga saham perusahaan yang berkantor pusat di Menlo Park, California ini. Pada 26 Juni lalu nilai saham Facebook di bursa Nasdaq sempat anjlok hingga 8 persen. Saat ini, saham Facebook telah kembali tergerek naik dan mengalami tren positif dalam lima hari terakhir.

 

 

 

 

Editor: Edward Panggabean

Berita Terkait

Berita Terkini

Diciduk Polisi Lagi, Tes Urine Millen Cyrus Positif Benzo

Propublik.id, Jakarta -- Selebgram Millen Cyrus kembali harus berurusan dengan aparat Polda Metro Jaya setelah terciduk saat berada di Kafe Brotherhood, Jakarta Selatan, pada...

650 Pendidik dan Tenaga Pendidik Disuntik Vaksin COVID-19

Propublik.id, Jakarta -- Pemerintah memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi pendidik dan tenaga pendidik (PTK), yang ditandai dengan pelaksanaan vaksinasi massal bagi 650 orang PTK...