5.7 C
Munich
Senin, Maret 8, 2021

Setelah Sinarmas Titip Uang, Kejagung Tunggu 12 MI Lainnya

Must read

ProPublik.id, Jakarta-Tim Jaksa Penyidik Pidana Khusus menerima uang titipan dari Tersangka Korporasi PT. Sinarmas Asset Management (PT. SAM) sebanyak Rp 77 milyar dalam pusaran dugaan Korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (PT AJS) tersebut.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Ali Mukartono saat mengelar konprensi pers di Kejagung, Jakarta, Rabu (8/7/2020) mengatakan meski perusahaan dari Sinar Mas Grup itu telah mengembalikan uang negara tersebut namun proses hukum tetap jalan.

“sudah barang tentu proses hukumnya tetap berjalan, saya yakinkan semua sudah diperiksa, saya tidak hafal safu persatu, tapi Dirutnya, Stafnya sudah kita periksa nanti selanjutnya kita selesaikan di tahap penyidikan,” ucap Ali Mukartono.

Dia mengakui pihaknya telah menyita aset para terdakwa di kasus korupsi perusahaan plat merah itu sebesar Rp.18,4 triliun, meski melebihi dari perhitungan kerugian negara oleh BPK sebesar Rp 16,8 triliun. Ini kata dia, lantaran ada aset berupa saham ikut disita dan sifatnya nilai saham itu fluktatif.

“Kelihatannya barang ini berlebih dari kerugian keuangan negara, memang sengaja penyidik melebihkan itu karena ada saham yang sifatnya fluktuatif,” ungkapnya.

Adapun dijelaskan dia, perhitungan kerugian keuangan negara pada beberapa perusahaan periode Tahun 2008 sampai dengan 2018 atas nama tersangka korporasi PT. SAM bersama 12 tersangka korporasi Manajer Investasi, lainnya.

Dimana berdasarkan Laporan Hasil pemeriksaan investigasi oleh BPK Nomor : 35/S/II/03/2020 tertanggal 09 Maret 2020 disimpulkan bahwa telah terjadi kerugian keuangan negara atas investasi reksa dana Simas Saham Ultima (SSU) pada Manajer Investasi PT. SAM sejumlah Rp77 miliar.

“Yang dihitung berdasarkan nilai perolehan reksa dana yaitu dana yang dikeluarkan oleh PT. AJS sejumlah Rp100 miliar untuk membeli unit penyertaan reksa dana (subscription) produk SSU dikurangi dengan dana yang diterima oleh PT. AJS yang berasal dari penjualan unit penyertaan reksadana (redemption) sejumlah Rp23 miliar,” ungkapnya.

Sementara Kapuspenkum Hari Setiyono menambahkan terkait pengembalian uang negara oleh PT SAM, bahwa dalam proses penyidikan, ternyata perusahaan itu telah menitipkan uang tunai kepada penyidik sejumlah Rp77 miliar, dengan rincian, pada tanggal 11 Maret 2020 sejumlah Rp3.061.295.846, dan pada tanggal 06 Juli 2020 sejumlah Rp73.938.704.154.

“Yang pelaksanaannya dibuat Berita Acara Penitipan Barang Bukti. Penitipan uang tersebut dilakukan dengan cara,
PT. SAM mentransfer ke Rekening Virtual Account PT. Bank Mandiri RPL 139 Satuan Kerja Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus sebagai jaminan apabila nantinya dalam putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (incraht) PT. SAM dikenakan kewajiban untuk membayar sejumlah nilai tertentu,” paparnya.

Dengan dikembalikannya uang negara tersebut, lagi sambung Jampidsus Ali Mukartono, pihaknya mengapresiasi pihak Manajer Investasi PT. SAM yang bersikap kooperatif dan beritikad baik selama proses penyidikan dengan bersedia mengganti sesuai kerugian keuangan negara di PT SAM, apabila ada keterlibatannya pada saat melakukan transaksi reksa dana milik PT. AJS tersebut.

“Bahwa itikat baik PT Sinarmas Aset Manajenen telah menyerahkan uang titipan Rp73 miliar dan ini diakumulasi dengan uang yang sudah disita oleh penyidik sebesar Rp 3 miliar lebih sehingga total Rp77 miliar lebih,” paparnya.

Dengan langkah Sinarmas itu, Ali berharap pengembalian atau penitipan uang ini dapat diikuti oleh Manajer Investasi lainnya, sehingga apabila putusan pengadilan telah memiliki kekuatan hukum tetap atau incraht, maka kerugian keuangan negara Cq. PT. AJS yang ditimbulkan akibat adanya penyimpangan dalam transaksi reksa dana dapat dipulihkan dan hal ini dapat membantu PT. AJS dalam membayar tunggakan premi kepada nasabah pemegang polis yang menjadi kewajiban PT. AJS.

“Dengan adanya itikad baik dari PT. SAM menunjukkan bahwa keuangan PT. SAM tidak ada permasalahan sehingga kepada nasabah yang menginvestasikan uangnya di PT. SAM diharapkan tidak perlu cemas dan khawatir,” tandasnya.

Editor: Edward Panggabean

More articles

Latest article