30.2 C
Jakarta
Kamis, Januari 21, 2021

Tanggapan Raksasa Semikonduktor China Terhadap Ancaman AS

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

 

Propublik.id, Beijing-Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) yang adalah raksasa semikonduktor asal China bereaksi terhadap ancaman Amerika Serikat (AS) untuk memasukkan perusahaan tersebut dalam daftar hitam perdagangan kedua negara. SMIC memandang ancaman tersebut tidak beralasan dan melanggar regulasi perdagangan internasional.

Perusahaan dalam keterangan tertulis menduga ancaman AS dikaitkan dengan pasokan produk ke militer China. Karena itu, SMIC menyampaikan bantahan mengenai hubunganya dengan pihak militer.

“Perusahaan memproduksi semikonduktor dan menyediakan layanan hanya kepada pihak sipil dan tujuan komersial. Kami tidak punya hubugan dengan militer China,” tulis pernyataan SMIC sebagaimana dikutip dari Global Times, Selasa (8/9/2020).

Perusahaan yang bermarkas di Shanghai itu menyatakan benar-benar terkejut atas informasi yang disebarluaskan media-media AS sejak Sabtu (5/9) lalu.

Pertumbuhan pesat perusahaan teknologi China rupanya menjadi target serangan AS dalam perang dagang dengan negeri Xi Jinping. SMIC akan menjadi bagian dari 300-an perusahaan teknologi yang telah mendapatkan sanksi sebelumnya. Beberapa di antaranya telah mengundang perhatian internasional, yakni Huawei dan Bytedance yang mengoperasikan aplikasi video sharing TikTok.

Jika ancaman terbaru ini direalisasikan, SMIC tidak akan mendapatkan suplai chip dari produsen-produsen di AS. Hubungan perusahaan yang berbasis di AS denga SMIC harus mendapatkan izin khusus.

Terhadap ancaman ini SMIC bersikap melunak. Perusahaan menyatakan siap bernegoisasi dengan AS, termasuk membuka kemungkinan untuk menghentikan suplai piranti lunak untuk Huawei, sesama perusahaan China.

Sikap ini mengundang reaksi keras sejumlah pengamat teknologi China. SMIC juga mendapatkan kecaman publik melalui media Sosial

Xiang Liang, analis telekomunikasi China menilai adanya larangan dari AS seharusnya memicu munculnya kerjasama yang lebih erat antara SMIC dan Huawei dalam hal produksi chip. Meskipun membutuhkan waktu yang lebih panjang, kerjasama itu diyakini akan membawa hasil positif bagi kedua belah pihak.

 

Editor: Edward Panggabean

Berita Terkait

Tinggalkan pesan anda

Ketik komentar anda
Masukan nama anda

Berita Terkini

Mengharukan…Wakapolres Subang Bangun Rumah Tidak Layak Huni Milik Kopka Hamim

Subang – Kopka Hamim Mulyono salah satu Anggota Koramil Purwadadi yang baik dalam penugasan, namun disatu sisi kehidupan pribadinya cukup memprihatinkan, dimana yang bersangkutan...

Kades Tanjung Siang Subang Dukung Komjen Listyo Jadi Kapolri

SUBANG //- Pencalonan Kepala Bareskrim (Kabareskrim Polri) Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Kabupaten Subang. Masyarakat Kabupaten Subang...