26.1 C
Jakarta
Selasa, Maret 2, 2021

Terungkap, Data Jiwasraya Dari Intelijen Hasil Laporan Konsultan Kroll

Terpopuler

Kejati Riau Tindak 11 Pelanggar PSBB, Mia: Siap Terapkan New Normal

Kejati Riau telah menindak 11 pelangar PSBB di wilayah hukumnya, dengan tuntutan yang disesuaikan dengan kapasitas perbuatan dari para terdakwa sebagai efek jera bagi masyarakat.

Kades Plosokerep Akui Warganya Terpapar Covid-19

Kepala Desa Plosokerep, tidak menyangka warganya yang bekerja di Surabaya sebagai pedagang sayur terpapar virus corona hingga menular ke istrinya yang lebih dulu memiliki riwayat sakit.

Ibu dan Calon Bayi Meninggal Di Rumah Sakit Swasta Daerah Tomohon

Seorang ibu muda bernama Melvin Amelia Suak, warga Desa Wolaang, Tomohon, merenggang nyawa bersama calon bayinya yang masih dalam kandungan. Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Bethesda, di daerah tersebut.

Sesuai Arahan Jaksa Agung, Kajati Pabar Siap Kawal Bansos Covid-19

Sesuai arahan Jaksa Agung Burhanuddin, Kepala Kejati Papua Barat meminta kepada jajarannya untuk mengawal dana bansos terkait Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020.

ProPublik.id, Jakarta-Sidang lanjutan kasus dugaan Korupsi perkara Asuransi Jiwasraya dengan terdakwa Benny Tjokrosaputro kembali digelar dengan agenda pemeriksaan saksi, dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Sebelumnya pada persidangan lanjutan pada Senin, 6 Juli 2020 lalu, jaksa menghadirkan Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko.

Dalam kesaksian Hexana, sempat menjadi perhatian, pasalnya, saat persidangan itu, saksi Hexana menyebutkan kasus Jiwasraya laporan sementara didapat dari data dalam Kroll. Dikutip dari  Bloomberg yang disadur oleh iconomics, Kroll Associates Inc merupakan perusahaan konsultan yang melayani manajemen risiko, manajemen informasi, pemulihan data dan teknologi.

Nah, kata Kroll itu terucap berawal dari pertanyaan terdakwa Heru Hidayat terkait masalah Jiwasraya. Lalu, diteruskan oleh Hakim,  meminta kejelasan kepada saksi Hexana, tentang data yang dimaksud. Saksi Hexana menyebut dari laporan Kroll, terdakwa memberi fasilitas ke manajemen AJS. Namun, Hexana tak menyebut terdakwa mana.

“Saya sampaikan sesuai data dalam Kroll,” kata Hexana.

“Selain pedoman investasi, apa yang jadi dasar investasi?” tanya Jaksa

“Ada Peraturan Menteri Keuangan (PMK).”

“Apa isi dari pedoman investasi itu?” tanya jaksa lagi

“Saya nggak ingat persis. Kompleks. Saya sampaikan data dalam Kroll. Laporan sementara,” Jawab saksi.

Hexana pun menilai kasus ini, secara ringkas investasi tidak berdasarkan prinsip kehati-hatian. “Tidak dengan kelayakan analisis,” singkat dia.

Tanya jawab Hexana dan Jaksa terkait audit kerugian negara itu didapat dari investigasi Kroll yang harga saham MYRX 2015 berada di bawah harga pasar, yakni antara Rp 127-145 per lembar saham.

Mendengar tanya jawab jaksa dan Hexana itu, Tim pengacara Benny Tjokrosaputro, Muchtar Arifin pun mendalami kata Kroll, dengan izin majelisn hakim yang diketuai Rosmina, Muchtar pun bertanya kepada Hexana.

“Kroll ini siapa?” tanya Muchtar

“Lembaga kosultan,” jawab Hexana.

“Siapa yang nunjuk?”

“BUMN dan dilaksanakan AJS (Jiwasraya).”

“Dalam laporan (Kroll) itu ada disebut (3) terdakwa memberi fasilitas kepada manajemen AJS (Jiwasraya), siapa yang memberi?”

“Saya tidak tahu.”

Mendengar itu, Muchtar meminta Kroll untuk dihadirkan di persidangan agar hasil laporan mereka bisa dikonfrontir dengan para terdakwa. Juga meminta agar jaksa penuntut umum memastikan apakah laporan Kroll itu dijadikan sebagai barang bukti dalam kasus ini. Pasalnya, dalam dakwaan tidak ada sama sekali laporan investigasi Kroll tersebut.

Mendengar permintaan kuasa hukum Benny Tjokro itu, Hakim Rosmina kembali bertanya kepada jaksa agar menjelaskan keberadaan laporan Kroll itu. Tanpa diduga jaksa menjawab “Itu laporan intelijen dan dijadikan sebagai barang bukti.”

Soal indeks LQ45 yang dipersoalkan jaksa itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) saham dengan emiten MYRX dan TRAM pernah masuk kategori itu. Khusus MYRX atau Hanson, berturut-turut masuk saham LQ45 sejak Februari hingga Juli 2016; Agustus 2016 hingga Januari 2017; Februari 2017 hingga Juli 2017; Agustus 2017 hingga Januari 2018; dan Februari 2018 hingga Juli 2018.

Terpisah Susilo Ariwibowo, yang juga pengacara Bentjok menambahkan pihaknya mempersoalkan laporan atas analisa Kroll tersebut, yang sumber data dari intelijen.

“Lah kalau data intelijen kemudian menjadikan dasar ini kan tidak pas menurut saya, nanti kita lihat apakah itu transparansi dibdalam laporan BPK, itu saja yg menjadi pedoman kita,” ucap Susilo kepada ProPublik.id.

Menurut dia, data analisa yang dilakukan Kroll melalui Intelijen, hal itu tidak wajar, dan kurang pas, seharusnya, jaksa memberi data-data itu kepada pihaknya juga, secara transparan.

“harusnya diberikan juga kepada pihak kita atau penasehat hukum, kita terbuka itu kan kebenaran materil kalau dia merahasiakan data-data yang sifatnya dari intelijen susah, bagimana mengkajinya. Pihak jaksa tidak memberikan, jadi pedoman kita hanya laporan BPK atas kerugian negara itu,” tandas Susilo.

Berita Terkait

Berita Terkini

Diciduk Polisi Lagi, Tes Urine Millen Cyrus Positif Benzo

Propublik.id, Jakarta -- Selebgram Millen Cyrus kembali harus berurusan dengan aparat Polda Metro Jaya setelah terciduk saat berada di Kafe Brotherhood, Jakarta Selatan, pada...

650 Pendidik dan Tenaga Pendidik Disuntik Vaksin COVID-19

Propublik.id, Jakarta -- Pemerintah memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi pendidik dan tenaga pendidik (PTK), yang ditandai dengan pelaksanaan vaksinasi massal bagi 650 orang PTK...