-2.8 C
Munich
Sabtu, Maret 6, 2021

TMC Sekarang Bukan Lagi Sekedar Hujan Buatan, Tapi…

Must read

Propublik.id, Jakarta – Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diarahkan menjadi salah satu solusi permanen pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Teknologi rekayasa cuaca yang dahulu dikenal sebagai teknologi hujan buatan ini bagian dari upaya pencegahan karhutla dengan cara pembasahan gambut.

“TMC dari segi biaya jauh lebih murah dari water boombing. Efektivitasnya juga jauh lebih tinggi, dengan TMC peluang terjadinya hujan merata di suatu wilayah terutama wilayah rawan karhutla, sehingga kita bisa menjamin tinggi muka air gambutnya, agar tetap basah dan tidak mudah terbakar,” ungkap Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen PPI KLHK), Rhuanda Agung Suhardiman, dalam media Briefing secara virtual, di Jakarta, Jumat (14/8/2020).

TMC disebutkan bagian salah satu  solusi permanen, yaitu bagian Analisis Iklim, disamping dua bagian lainnya, yaitu Pengendalian Operasional dan Pengelolaan Landscape.

Ruandha pun menguraikan jika manfaat TMC untuk membasahi lahan gambut juga akan mengurangi asap akibat kebakaran, juga dapat memadamkan api pada wilayah yang luas, serta dapat mengatasi kekeringan.

Namun pada pelaksanaannya TMC membutuhkan sinergitas beberapa instansi, seperti KLHK, BPPT, BMKG, BNPB dan TNI AU. Kedepan diungkap Rhuandha sinergitas antar instansi akan diperkuat menjadi sistem yang bekerja secara otomatis tanpa perlu adanya permintaan TMC.

“Berdasarkan data analisis iklim yang dioperasikan dengan bantuan kecerdasan buatan, TMC bisa segera dilakukan, sehingga Karhutla dapat diatasi sedini mungkin,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, tentunya para pembakar lahan itu akan melakukan aksinya dengan melihat kondisi lapangan. Jika masih ada hujan akan membatalkan niatnya membakar lahan.

“Sekarang kita juga sedang melakukan upaya sosialisasi upaya pembukaan lahan tanpa bakar, serta kita sedang membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) paralegal,” tambahnya.

Masih diungkapkan Ruandha, pihaknya memberi pengetahuan kepada masyarakat dengan muatan hukum dan regulasi sehingga pembakar hutan akan paham bahwa selama ini upaya pembakaran lahan yang mereka lakukan ini berbahaya dan melanggar hukum karena asapnya mengancam kesehatan masyarakat,” urainya.

Sementara Indra Gustari, dari Kedeputian Klimatologi BMKG menjelaskan jika sebagai institusi yang bertugas di bidang pemantauan Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika, keberadaan BMKG dalam mendukung TMC diarahkan pada penempatan personil dalam posko TMC, memberikan informasi prakiraan cuaca daerah penyemaian, memberikan informasi awan layak semai dan update rutin dan real-time informasi cuaca.

BMKG pun senantiasa melakukan inovasi dalam tugasnya agar dapat memberikan data yang semakin akurat. Diantaranya menggunakan teknologi radar cuaca untuk TMC.

“Dengan radar cuaca akurasi prediksi cuaca menjadi lebih akurat karena resolusi data radar ini lebih tinggi,” ucapnya.

Disebutkan juga jika saat ini BMKG telah memiliki 41 unit radar cuaca yang terdiri dari jenis 37 C-Band dan 4 X-Band yang tersebar di seluruh Indonesia.

Reporter : Dedy Mulyadi

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article